Perubahannya cukup signifikan. Setiap unit sekarang hanya berisi 93 tempat duduk dengan formasi 3:2 yang diklaim lebih ergonomis dan lapang. Bandingkan dengan susunan lama yang bisa memuat sampai 106 kursi tentu lebih sesak. Ada juga fitur reversible, yang memungkinkan arah kursi disesuaikan dengan laju kereta. Hal kecil seperti ini ternyata cukup berpengaruh pada kenyamanan penumpang.
Soal harga, posisinya memang dirancang sebagai pilihan tengah. Tarifnya ditempatkan di atas kelas ekonomi PSO (yang bersubsidi) tapi masih di bawah Ekonomi Reguler. Skema ini jelas memberi alternatif buat masyarakat yang menginginkan fasilitas lebih baik tanpa harus merogoh kocek terlalu dalam.
Menurut Franoto, inovasi semacam ini adalah cara KAI mengoptimalkan sarana yang sudah ada. Tujuannya sederhana: menambah kapasitas angkut dalam waktu yang relatif singkat.
"Lebaran menuntut kesiapan menyeluruh. Melalui inovasi pada sarana yang ada, kapasitas bertambah dan kualitas perjalanan meningkat," katanya.
Franoto menambahkan, "Pelanggan memiliki lebih banyak pilihan jadwal serta kelas sesuai kebutuhan."
Jadi, bagi calon pemudik tahun depan, ada opsi baru yang bisa dipertimbangkan. Tinggal lihat saja, apakah tawaran ini akan laris manis seperti tahun-tahun sebelumnya.
Artikel Terkait
Kebijakan WFH ASN Turunkan Jumlah Penumpang LRT Jabodebek 10 Persen
Arbeloa Tegaskan Real Madrid Tak Akan Menyerah di Pengejaran Gelar La Liga
BSI Proyeksikan 83% Jamaah Haji Reguler 2026 adalah Nasabah Tabungan Haji
Tiang Listrik Keropos Ambruk di Mangga Besar, Lalu Lintas Sempat Lumpuh