Dalam kondisi serba tidak pasti ini, sikap yang diambil cenderung wait and see. Atau lebih tepatnya, wait and assess. Para pengusaha akan menyesuaikan skenario bisnis dengan sangat hati-hati, sambil berkoordinasi intens dengan pemerintah.
"Perencanaan tahun berjalan akan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian, diversifikasi pasar, serta penguatan efisiensi internal," imbuhnya.
Harapannya, situasi ini segera mengarah pada kebijakan yang lebih stabil dan terinstitusionalisasi. Hubungan dagang Indonesia-AS kan bersifat jangka panjang, terutama untuk sektor padat karya yang ekspornya mengandalkan pasar Amerika. Kejelasan aturan main dan keberlanjutan dialog adalah kunci.
Namun begitu, Sanny melihat dinamika ini juga bisa jadi momentum. Saatnya menjalankan agenda reformasi struktural yang selama ini didengungkan mulai dari efisiensi logistik, penyederhanaan regulasi, sampai penguatan industri hulu. Dengan cara itu, keunggulan tarif berapa pun angkanya bisa benar-benar diterjemahkan menjadi peningkatan daya saing dan penciptaan lapangan kerja.
"APINDO akan terus membersamai pemerintah dalam mencermati perkembangan ini," tegas Sanny. Prioritas utamanya tetap sama: menjaga kepentingan industri nasional dan stabilitas kerja bagi jutaan tenaga kerja.
Langkah Trump ini memang mengejutkan banyak kalangan. Diumumkan tepat sehari setelah putusan Mahkamah Agung, kenaikan tarif menjadi 15 persen itu jelas akan mengubah peta persaingan. Sekarang, semua mata tertuju pada respons dan langkah strategis berikutnya.
Artikel Terkait
Kemenperin Soroti Penurunan Produksi Kendaraan Niaga di Tengah Kebutuhan Logistik yang Meningkat
Kemenaker Diminta Efisiensi Anggaran Rp181,8 Miliar oleh Kemenkeu
Pemerintah Turunkan Biaya Haji 2026 Rp 2 Juta di Tengah Lonjakan Harga Avtur
Ledakan di Bogor Subuh Tadi Rusak Sekolah, Belajar Dialihkan ke Daring