Pekan depan, tiang-tiang monorel yang sudah bertahun-tahun terbengkalai di sepanjang Rasuna Said akhirnya akan dibongkar. Kabar dari Pemprov DKI ini langsung disambut hangat oleh banyak orang, terutama mereka yang tiap hari harus melintasi atau beraktivitas di kawasan Jakarta Selatan itu.
Bagi warga, tiang-tiang itu bukan cuma soal pemandangan yang kurang sedap dipandang. Lebih dari itu, mereka menilai struktur besi itu jadi masalah keselamatan yang nyata. Sudah terlalu lama mangkrak, tak berguna, cuma menghalangi ruang publik.
“Bagus, nanti enggak mengganggu jalan umum. Ya bagus lah kalau memang mau dibongkar,”
kata Iqbal, seorang warga setempat. Suaranya mewakili perasaan banyak orang.
Pendapat serupa terlontar dari warga lain yang merasa proyek yang tak kunjung berfungsi itu terasa mubazir. “Buat masyarakat ya (tiang monorel) mengganggu aja, tidak ada fungsinya. Sayang kan jadi mubazir ada di situ,” ujarnya. “Fungsinya kan gak ada, akan lebih bagus lagi kalau dimanfaatkan. Kalau dibongkar kan jalanan makin lancar.”
Kekhawatiran akan keselamatan ternyata bukan isapan jempol belaka. Heri, seorang petugas keamanan berusia 57 tahun yang bertugas di kawasan itu, mengaku pernah mendengar sejumlah insiden.
“Pernah ngomong katanya ada mobil yang nabrak, metro mini mungkin,”
ceritanya. Ia menilai keberadaan tiang-tiang itu memang berpotensi membahayakan pengguna jalan.
Bukan Cuma Cerita: Kecelakaan Benar-Benar Terjadi
Kekhawatiran Heri dibenarkan oleh pengalaman Deni (37), seorang pekerja di sekitar Rasuna Said. Ia sendiri pernah menyaksikan langsung sebuah kecelakaan.
“Karena waktu itu pernah kejadian di depan situ orang nabrak gituan tuh (tiang monorel), naik motor. Cuma yang sebelah sono. Mungkin ngantuk kali ya, jadi nabrak,”
tuturnya. Yang membuat Deni resah adalah kondisi fisik tiang-tiang itu sendiri. Besi-besinya yang menonjol dan tak terawat itu dianggapnya seperti bahaya yang mengintai.
“Kita mengkhawatirkan besinya itu, itu kan banyak yang melintang, ada yang jatuh gitu. Emang besi gak salah ya, tapi kan orang namanya ngantuk apa terus ada yang nabrak, besinya nonjol jadi ketusuk gitu,”
tambahnya dengan nada was-was.
Di sisi lain, bagi mereka yang sehari-hari berkendara di sana, seperti Amdan (24), gangguan itu lebih ke arah kenyamanan dan estetika. Sebagai pengemudi ojek online, ia hampir tiap hari melewati jalur itu.
“Sebenernya mengganggu sih, seharusnya mending dipretelin. Pemandangannya gimana gitu, jelek aja,”
ucapnya polos. Harapannya sederhana: pembongkaran yang cepat agar Rasuna Said terlihat lebih rapi dan tentu saja, lebih aman untuk dilewati.
Nah, rencana pembongkaran pekan depan seperti jadi jawaban atas keluhan yang menumpuk selama ini. Tinggal menunggu eksekusinya saja di lapangan.
Artikel Terkait
Persib Kokohkan Puncak Klasemen Usai Kalahkan Persita 1-0
KAMMI Serahkan Hasil Panen Beras Sambas ke Mentan, Buktikan Peran Pemuda dalam Ketahanan Pangan
IHSG Melemah Tipis, Analis Soroti Level Kunci 8.170 untuk Tren Berikutnya
Kemenag Tegaskan Aturan Pengeras Suara Masjid Sudah Ada, Tanggapi Protes WNA di Gili Trawangan