Daftarnya berlanjut: Justin Metz dari Related Fund Management; Luke Taylor dari Stonepeak; Nabil Mallick dari Thrive Capital; Jeffrey Perlman dari Warburg Pincus; dan terakhir Seth Bernstein dari Bernstein Equity Partners.
Namun begitu, pertemuan ini jelas bukan sekadar serah-terima kenang-kenangan. Teddy menegaskan bahwa Presiden Prabowo secara khusus menekankan komitmen pemerintah Indonesia.
Intinya, menciptakan iklim investasi yang kondusif. Membuka ruang kolaborasi yang saling menguntungkan.
"Presiden Prabowo membuka seluas-luasnya peluang investasi," kata Teddy. Tujuannya jelas: untuk membangun sebanyak-banyaknya rantai ekonomi dan lapangan pekerjaan yang, pada akhirnya, menguntungkan kepentingan dalam negeri Indonesia.
Jadi, di balik jersey sepak bola yang mungkin akan menghiasi lemari kenangannya, ada agenda yang jauh lebih besar yang dibawa pulang dari Washington.
Artikel Terkait
Pemerintah Tegaskan Pemotongan Gaji Pejabat Masih Wacana, Belum Diputuskan
Bank Indonesia Siap Setor Sisa Surplus Rp40 Triliun ke Pemerintah
Said Didu Klarifikasi Polemik EO Sarang Korupsi: Targetnya Oknum Pejabat, Bukan Pelaku Profesional
SKK Migas Targetkan Dua Pabrik LPG Baru Beroperasi April Ini