BRI Peduli Gelar Edukasi dan Aksi Nyata Pengelolaan Sampah di Bekasi

- Sabtu, 21 Februari 2026 | 12:15 WIB
BRI Peduli Gelar Edukasi dan Aksi Nyata Pengelolaan Sampah di Bekasi

Masalah sampah di kota-kota besar seperti Bekasi memang kompleks. Tapi, di tengah situasi itu, ada upaya nyata yang patut diapresiasi. Baru-baru ini, di Kelurahan Jatikramat, Bekasi, program "BRI Peduli Yok Kita Gas" hadir dengan agenda edukasi pengelolaan sampah. Kegiatan ini digelar di Bank Sampah Cantik Resik, dan momentumnya tak lepas dari peringatan Hari Peduli Sampah Nasional setiap 21 Februari.

Ratusan orang terlibat, mulai dari pengurus bank sampah, siswa SMPN 23 Bekasi, hingga warga setempat. Mereka tak sekadar diberi teori. Ada pemaparan materi, ya, tapi juga diajak langsung praktik. Intinya, mengenalkan inovasi pengelolaan sampah berkelanjutan yang bisa diadopsi di lingkungan mereka sendiri.

Edukasi pemilahan sampah rumah tangga jadi fokus utama. Tujuannya jelas: meningkatkan kesadaran bahwa pemecahan masalah sampah bisa dimulai dari dapur masing-masing. Nah, untuk memantik kreativitas, diadakan juga lomba inovasi produk. Peserta diajak berpikir, bagaimana menerapkan prinsip reduce, reuse, dan recycle dalam bentuk karya yang berguna.

Sebagai bentuk dukungan, BRI Peduli menyerahkan bantuan peralatan. Dua unit komposter, misalnya, diharapkan bisa mengubah sampah organik rumah tangga jadi pupuk, baik padat maupun cair. Dengan begitu, beban sampah yang akhirnya menumpuk di TPA bisa berkurang. Keranjang sampah anorganik dan peralatan penunjang lain juga turut disalurkan.

Corporate Secretary BRI, Dhanny, menegaskan komitmen bank ini. Menurutnya, program ini adalah wujud nyata kepedulian BRI dalam menangani persoalan sampah sekaligus menjaga keseimbangan lingkungan.

“Pelaksanaan Program BRI Peduli Yok Kita Gas di Bank Sampah Cantik Resik dalam rangka Hari Peduli Sampah Nasional merupakan bentuk nyata kepedulian BRI,” ujarnya.

Ia menambahkan, inisiatif ini juga merupakan kontribusi BRI terhadap Gerakan Indonesia ASRI, sebuah gerakan nasional untuk meningkatkan kualitas hidup lewat perbaikan lingkungan.

Hasilnya? Cukup konkret. Dari kegiatan di Jatikramat saja, terkumpul 95,7 kg sampah. Rinciannya, 8,18 kg organik dan 87,52 kg anorganik. Lomba inovasi produk pun menghasilkan lima karya olahan sampah, empat dari bahan anorganik dan satu dari organik.

Secara lebih luas, program yang digulirkan sejak 2021 ini sudah menjangkau 117 lokasi. Mulai dari bank sampah, pasar tradisional, kelurahan, sekolah, hingga titik-titik sungai. Angkanya pun tak main-main: terkumpul ratusan juta kilogram sampah, menghasilkan ribuan unit pupuk kompos, dan berpotensi mereduksi emisi gas rumah kaca lebih dari 2,3 juta kg CO2e.

Dampaknya multidimensi. Dhanny menyebut, selain manfaat sosial dan lingkungan, ada pula nilai ekonominya. Masyarakat, khususnya di daerah padat penduduk, mendapat wawasan baru dan keterampilan memilah sampah. Hal ini sejalan dengan komitmen BRI mendukung tujuan pembangunan berkelanjutan atau SDGs.

“Masyarakat... mendapatkan manfaat dari program ini, antara lain wawasan tentang kondisi pengelolaan sampah yang meningkatkan kesadaran terhadap lingkungan,” pungkas Dhanny.

Jadi, lewat program seperti ini, persoalan sampah yang kerap terasa membebani, sedikit demi sedikit dicari solusinya. Dari edukasi, lalu aksi nyata.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar