Hujan deras yang mengguyur Jakarta sejak pagi tadi, Jumat (20/2), ternyata membawa konsekuensi serius. Genangan air kian meluas, mengubah sejumlah permukiman dan jalan protokol menjadi seperti kolam. Menurut laporan terbaru dari BPBD DKI Jakarta, hingga siang ini pukul 12.00 WIB, banjir sudah merendam 123 RT dan 9 ruas jalan utama.
Mohammad Yohan, Kepala Pusat Data dan Informasi BPBD DKI, mengonfirmasi angka tersebut.
“BPBD mencatat saat ini terdapat 123 RT dan 9 ruas jalan tergenang,”
katanya lewat keterangan tertulis.
Yohan menambahkan, upaya penanganan tengah digenjot. Personel dikerahkan untuk memantau perkembangan di lapangan. Mereka juga berkoordinasi ketat dengan berbagai dinas terkait. Targetnya jelas: genangan harus surut secepat mungkin.
“BPBD DKI Jakarta mengerahkan personel untuk memonitor kondisi genangan di setiap wilayah,” jelas Yohan.
Ia merinci, koordinasi dilakukan dengan Dinas SDA, Bina Marga, dan Gulkarmat. Fokusnya pada penyedotan air dan memastikan saluran-saluran berfungsi. Para lurah dan camat di lokasi terdampak juga dilibatkan. Tak lupa, penyiapan kebutuhan dasar bagi warga yang terkena dampak menjadi prioritas.
Kalau dilihat sebarannya, Jakarta Selatan jadi wilayah yang paling parah terdampak. Ada 90 RT yang terendam di sini. Sementara di Jakarta Barat, 33 RT dilaporkan tergenang.
Di Jakarta Barat, wilayah seperti Kedaung Kali Angke dan Rawa Buaya paling menderita. Ketinggian air di sana mencapai 80 cm, dipicu luapan Kali Angke dan hujan yang tak henti. Kawasan Kedoya Selatan juga tak kalah parah, dengan genangan setinggi 80 cm.
Jakarta Selatan situasinya lebih kompleks lagi. Petogogan jadi titik terparah dengan 39 RT terendam dan air setinggi 80 cm. Pondok Pinang dan Petukangan Utara juga mengkhawatirkan, dengan ketinggian air masing-masing mencapai 90 cm dan 1 meter. Penyebabnya beragam, mulai dari luapan Kali Krukut, Ciliwung, Pesanggrahan, hingga Kali Uangan.
Selain permukiman, lalu lintas pun terganggu. Sembilan ruas jalan terpaksa dilalui dengan hati-hati karena tergenang. Beberapa titik kritis antara lain Jl. Puri Kembangan di Kedoya Selatan (60 cm), Jl. Daan Mogot di Rawa Buaya (40 cm), dan Jl. Pondok Karya di Pela Mampang (60 cm).
Semua ini adalah bukti betapa kota ini masih sangat rentan saat dilanda hujan dengan intensitas tinggi. Upaya penyedotan dan normalisasi terus dilakukan. Tapi bagi warga yang rumahnya kebanjiran, yang dibutuhkan adalah hasil yang konkret: air surut dan kehidupan kembali normal.
Artikel Terkait
Tesla Pangkas Harga Cybertruck dan Model Y Hadapi Persaingan Global
Iran Ancam Balas Serangan AS di PBB, Tegaskan Komitmen Diplomasi
Pemerintah Tanggung PPN Sumbangan Pakaian Jadi untuk Korban Bencana di Sumatera
PUPR dan Lippo Group Sepakati Pembangunan 141.000 Unit Rusun Subsidi di Meikarta