MURIANETWORK.COM - Iran mengancam akan memberikan respons militer yang keras jika Amerika Serikat melancarkan serangan terhadapnya. Peringatan tersebut disampaikan oleh diplomat tertinggi Iran di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui surat resmi kepada Dewan Keamanan, menanggapi eskalasi militer AS di kawasan Timur Tengah yang melibatkan puluhan pesawat dan kapal perang, termasuk dua kapal induk. Ancaman ini muncul di tengah tenggat waktu yang diberikan pemerintahan baru AS untuk mencapai kesepakatan nuklir.
Peringatan Resmi di Forum Internasional
Dalam komunikasi formalnya, Duta Besar Iran untuk PBB, Amir Saeid Iravani, menyampaikan posisi negaranya dengan tegas. Surat itu menegaskan bahwa segala bentuk agresi dari AS akan memicu balasan yang luas.
"Semua pangkalan, fasilitas, dan aset pasukan musuh di kawasan akan menjadi sasaran yang sah dalam konteks respons defensif Iran," tulis Iravani dalam suratnya.
Ia juga memperingatkan tentang konsekuensi yang bisa meluas dari tindakan sepihak Washington. "Amerika Serikat akan memikul tanggung jawab penuh atas konsekuensi yang tidak terduga dan tidak terkendali," lanjutnya.
Komitmen pada Jalur Diplomasi
Meski menyampaikan ancaman militer, surat diplomatik itu secara bersamaan menegaskan kembali komitmen Teheran untuk menyelesaikan perselisihan melalui meja perundingan. Iran menyatakan kesiapannya untuk mencapai kesepakatan nuklir yang langgeng, dengan catatan tertentu.
"Jika Amerika Serikat juga menjalani pembicaraan ini dengan keseriusan dan ketulusan serta menunjukkan rasa hormat yang tulus terhadap prinsip-prinsip Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa dan norma-norma hukum internasional yang mutlak, maka pencapaian solusi yang langgeng dan seimbang akan sepenuhnya mungkin," jelas duta besar tersebut.
Eskalasi Militer dan Tenggat Waktu
Peringatan Iran ini tidak muncul di ruang hampa. Latar belakangnya adalah pengerahan kekuatan militer AS yang signifikan ke kawasan Timur Tengah dalam beberapa pekan terakhir. Langkah itu, yang oleh pengamat dianggap sebagai upaya tekanan maksimal, melibatkan lebih dari seratus pesawat tempur dan selusin kapal perang.
Eskalasi ini beriringan dengan pernyataan politik dari pemimpin AS yang memberikan batas waktu singkat kepada Iran. Dalam pertemuan perdana Dewan Perdamaian, pemerintah baru di Washington memberikan waktu 10 hingga 15 hari bagi Iran untuk mencapai kesepakatan nuklir, sebuah tenggat yang menambah ketegangan di antara kedua negara yang sudah lama berseteru.
Situasi ini menempatkan kawasan di persimpangan yang berbahaya, di mana ancaman militer dan jalur diplomasi berjalan beriringan di bawah tekanan waktu yang ketat.
Artikel Terkait
Pengiriman Perdana Pipa Dimulai, Proyek Gas Dusem Rp6,5 Triliun Masuki Fase Konstruksi Intensif
Indonesia Ditunjuk sebagai Wakil Komandan Pasukan Penjaga Perdamaian Internasional di Gaza
Trump Puji Kepemimpinan Prabowo, Indonesia Siap Kirim 8.000 Pasukan Perdamaian ke Gaza
Tesla Pangkas Harga Cybertruck dan Model Y Hadapi Persaingan Global