Sebenarnya, hasil nihil ini sudah diantisipasi dari Jakarta. Sebelum pengamatan dilakukan, Menteri Agama Nasaruddin Umar sudah memberi penjelasan. Menurutnya, hilal pada tanggal 17 Februari 2026 itu mustahil terlihat.
“Kalau kita lihat perhitungan teknologi saat ini, wujud hilal masih dalam posisi minus 2 derajat 24 menit 42 detik hingga 0 derajat 58 menit 47 detik. Jadi hampir mustahil bisa dirukyat,” jelasnya di Jakarta, Selasa itu juga.
Perkiraan Menag itu ternyata akurat. Posisi hilal yang masih jauh di bawah ufuk jelas tidak memenuhi syarat. Kriteria MABIMS yang diikuti Indonesia, Brunei, Malaysia, dan Singapura mensyaratkan hilal minimal 3 derajat di atas ufuk dengan elongasi 6,4 derajat. Jaraknya masih jauh.
Jadi, sore itu di Sorong, langit hanya dihiasi senja. Tanpa tanda bulan baru.
Artikel Terkait
Long Weekend Paskah, 73 Ribu Kendaraan Padati Jalur Puncak Bogor
Manchester City Hancurkan Liverpool 4-0, Haaland Cetak Hattrick ke Semifinal Piala FA
Tiga Prajurit TNI Gugur di Lebanon, Tiga Lainnya Terluka
FAO Catat Kenaikan Harga Pangan Global Kedua Kalinya Berturut-turut