TEL AVIV Pemerintah Israel baru saja mengeluarkan ultimatum keras. Hamas diberi waktu 60 hari untuk menyerahkan seluruh persenjataannya. Ancaman yang menyertainya jelas: jika ditolak, serangan militer ke Jalur Gaza akan dilanjutkan.
Seperti dilaporkan The Times of Israel, pernyataan itu disampaikan Sekretaris Kabinet Israel, Yossi Fuchs.
"(Hamas) Harus menyerahkan semua senjata, termasuk senapan," tegas Fuchs.
Menariknya, Fuchs mengklaim bahwa batas waktu dua bulan itu bukanlah keputusan Israel. Menurutnya, itu berasal dari pemerintahan Amerika Serikat. "Kami menghormati hal itu," ucapnya singkat.
Kapan tepatnya ultimatum itu dimulai? Fuchs tak menyebut tanggal pastinya. Namun, dari penjelasannya, ada indikasi kuat bahwa hitungan mundur akan dimulai pada 19 Februari. Tanggal itu bertepatan dengan pertemuan Dewan Perdamaian Gaza di Washington DC.
“Kita akan mengevaluasinya. Jika berhasil, bagus. Kalau tidak, ya IDF harus menyelesaikan misi tersebut,” tandas Fuchs, merujuk pada Pasukan Pertahanan Israel.
Di sisi lain, respons dari Hamas bisa ditebak. Kelompok yang menguasai Gaza itu punya catatan panjang menolak mentah-mentah seruan semacam ini. Bagi mereka, selama pendudukan Israel masih berlangsung, perlawanan bersenjata adalah jalan yang tak bisa ditawar.
Jadi, situasinya kembali memanas. Dua bulan ke depan akan menjadi periode genting, penuh ketegangan dan ancaman yang menggantung.
Artikel Terkait
Irak dan UEA Bangun Kabel Fiber Optik Rp11 Triliun untuk Rute Data Asia-Eropa
Pemerintah Tetapkan 1 Ramadan 1447 H Jatuh pada 19 Februari 2026
BNI Luncurkan Dropbox Sampah Kertas, Daur Ulang Jadi Planting Paper
Indonesia dan UEA Jalin Kemitraan Strategis untuk Bangun Rantai Pasok Rare Earth