Perminas dan Mitra UEA Kembangkan Rantai Pasok Mineral Kritis dari Gabon

- Selasa, 17 Februari 2026 | 16:20 WIB
Perminas dan Mitra UEA Kembangkan Rantai Pasok Mineral Kritis dari Gabon

MURIANETWORK.COM - Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara, melalui PT Perusahaan Mineral Nasional (Persero) atau Perminas, menjalin nota kesepahaman (MoU) dengan perusahaan asal Uni Emirat Arab, New Energy Metals Holdings Ltd (NEM). Kerja sama strategis ini bertujuan mengamankan akses dan mengembangkan rantai nilai mineral kritis, terutama tanah jarang (rare earth), yang menghubungkan sumber daya dari sektor hulu di Gabon dengan pengolahan hilir di dalam negeri.

Mendorong Industrialisasi Hilir dan Ketahanan Bahan Baku

Kolaborasi ini bukan sekadar perjanjian di atas kertas. Ruang lingkupnya mencakup evaluasi mendalam terhadap potensi pengembangan sumber daya niobium dan rare earth di proyek Maboumine, Gabon. Lebih dari itu, fokus utama adalah memperkuat kapasitas hilir di Indonesia, yang meliputi tahap pemrosesan, pemurnian, produksi logam dan paduan, hingga manufaktur magnet permanen yang bernilai tinggi.

Langkah ini dipandang sebagai respons terhadap kebutuhan fase industrialisasi Indonesia selanjutnya, yang memerlukan pasokan bahan baku strategis yang stabil serta kemampuan transformasi menjadi produk akhir yang kompetitif.

Chief Executive Officer (CEO) Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, menegaskan hal tersebut. "Kerangka kerja sama ini selaras dengan ambisi tersebut dan mendukung pengembangan rantai nilai mineral kritis strategis yang berorientasi ke depan," jelasnya dalam keterangan resmi, Selasa (17/2/2026).

Mekanisme Kerja dan Target Ke Depan

Untuk mempercepat realisasi, kedua belah pihak sepakat membentuk kelompok kerja bersama. Tim ini akan fokus pada program teknis dan komersial, seperti pertukaran data, lokakarya, serta kajian kelayakan investasi. Pembicaraan juga akan dibuka untuk merancang skema pembiayaan strategis, termasuk kemungkinan partisipasi ekuitas atau utang dalam proyek tambang Maboumine.

Pendekatan terstruktur ini diharapkan dapat meminimalisir risiko dan memastikan setiap langkah selaras dengan kepentingan nasional.

Direktur Utama Perminas, Gilarsi Wahju Setijono, melihat kerja sama ini sebagai sebuah jalur yang jelas. "Perminas berkomitmen mendorong pencapaian tujuan strategis Indonesia di sektor mineral kritis dan industrialisasi hilir. MoU ini menciptakan jalur yang terstruktur untuk menilai peluang yang menghubungkan potensi sumber daya hulu dengan penciptaan nilai hilir, selaras dengan tata kelola yang kuat dan prioritas nasional jangka panjang," tambahnya.

Signifikansi Mineral Kritis untuk Masa Depan

Latar belakang dari kolaborasi ini tidak bisa dilepaskan dari peran vital mineral kritis dalam industri modern. Material seperti niobium serta unsur tanah jarang mulai dari neodymium dan praseodymium untuk magnet kuat, hingga dysprosium dan terbium untuk stabilitas suhu tinggi telah menjadi tulang punggung berbagai teknologi mutakhir.

Kebutuhan akan material-material ini terus meluas, terutama untuk mendukung transisi energi global. Mereka adalah komponen inti dalam kendaraan listrik, turbin angin, infrastruktur jaringan pintar, hingga aplikasi pertahanan dan kedirgantaraan. Keamanan pasokan dan penguasaan teknologi pengolahannya, oleh karena itu, erat kaitannya dengan ketahanan ekonomi dan daya saing industri suatu bangsa.

Dengan demikian, kerja sama antara Perminas dan mitra dari UEA ini bukan hanya soal transaksi bisnis, melainkan sebuah langkah strategis untuk memposisikan Indonesia lebih kokoh dalam peta rantai pasok mineral kritis global.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar