Data perdagangan menunjukkan potensi yang sangat besar untuk dimaksimalkan. Sepanjang 2024, Indonesia berhasil mengekspor 316,7 ribu ton kopi. Target hingga 2026 adalah memperkuat akses pasar dengan konsistensi mutu, pemenuhan standar internasional yang ketat, dan pengembangan produk olahan yang sesuai selera pasar global yang terus berkembang.
Strategi Terintegrasi dari Hulu ke Hilir
Upaya transformasi ini tentu tidak hanya bertumpu pada hilir. Dari sisi hulu, pemerintah melalui Ditjen Perkebunan juga mendorong praktik budidaya yang lebih adaptif terhadap tantangan perubahan iklim. Pendampingan dan penguatan kelembagaan pekebun menjadi perhatian serius untuk memastikan mereka memiliki kapasitas dan ketahanan yang memadai.
Yang tak kalah penting adalah membangun jembatan yang kokoh antara kebun dan pabrik. Kemitraan yang saling menguntungkan antara pekebun dan industri pengolahan didorong untuk mempercepat transformasi, khususnya di sentra-sentra produksi utama. Sinergi ini diharapkan dapat menciptakan ekosistem yang lebih solid.
“Dengan strategi terintegrasi dari hulu hingga hilir, termasuk penguatan hilirisasi di dalam negeri, pengembangan kopi nasional hingga 2026 diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah, memperluas pasar, serta memperkuat kesejahteraan pekebun secara berkelanjutan,” pungkas Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Perkebunan, Abdul Roni Angkat.
Dengan langkah-langkah konkret ini, industri kopi Indonesia tidak hanya berharap mempertahankan gelar sebagai salah satu produsen terbesar dunia, tetapi juga naik kelas menjadi pemain global yang diperhitungkan dengan produk bernilai tinggi, sekaligus membawa kemakmuran yang lebih merata hingga ke akar rumput.
Artikel Terkait
BMKG Prakirakan Hujan Guyur Jabodetabek Sepanjang Hari Ini
MA Rilis 24 Kaidah Hukum Baru Pedoman Pengadilan Se-Indonesia
Gempa M7,3 di Manado-Bitung, Operasional PLTP Lahendong Tetap Stabil
Iran Tawarkan Hadiah Rp1 Miliar untuk Temukan Pilot AS yang Jatuh di Wilayahnya