MURIANETWORK.COM - Disney secara resmi menuduh ByteDance, induk perusahaan TikTok, menggunakan konten berhak ciptanya tanpa izin untuk melatih model kecerdasan buatan (AI) pembuat video, Seedance 2.0. Tuduhan ini disampaikan melalui surat peringatan yang dikirimkan ke ByteDance, menyusul viralnya sejumlah video yang dihasilkan platform tersebut yang menampilkan karakter ikonik seperti dari Marvel dan Star Wars.
Surat Peringatan dan Tuduhan Pelanggaran
Menurut informasi yang beredar, surat dari Disney itu secara spesifik menuduh Seedance 2.0 telah mereproduksi, mendistribusikan, dan bahkan menciptakan karya turunan yang menampilkan karakter-karakter milik Disney. Langkah hukum ini menandai ketegangan terbaru antara pemegang hak cipta konten kreatif dengan pengembang teknologi AI generatif yang berkembang pesat.
Menanggapi hal ini, ByteDance menyatakan komitmennya untuk memperkuat fitur pengamanan pada Seedance 2.0. Perusahaan asal China itu berjanji akan mencegah penggunaan tanpa izin terhadap karakter berhak cipta dan gambar selebriti di platform mereka.
“Kami berjanji memperkuat fitur pengamanan pada Seedance 2.0 untuk mencegah penggunaan tanpa izin karakter berhak cipta dan gambar selebriti,” jelas perwakilan ByteDance.
Tidak Hanya Disney, Paramount Juga Melayangkan Tuduhan
Gelombang kekhawatiran dari industri hiburan ternyata tidak hanya datang dari Disney. Studio besar lain, Paramount Skydance, juga dikabarkan telah mengirimkan surat peringatan serupa kepada ByteDance. Dalam suratnya, Paramount menilai tindakan yang dituduhkan merupakan pelanggaran terang-terangan terhadap kekayaan intelektual yang mereka miliki.
Insiden ini terjadi di tengah momentum Seedance 2.0 yang baru saja dirilis dan langsung menarik perhatian publik. Kemampuannya menghasilkan video dengan alur cerita sinematik hanya dari deskripsi teks singkat menuai banyak pujian, sekaligus memicu pertanyaan etis yang kompleks.
Viralnya Konten dan Respons Proaktif Disney
Beberapa video hasil Seedance 2.0 yang menjadi viral, seperti adegan perkelahian antara Tom Cruise dan Brad Pitt, memperlihatkan kemampuan teknis yang mengesankan sekaligus kerentanan sistem terhadap penyalahgunaan hak cipta. Situasi ini memaksa perusahaan teknologi dan pemegang hak untuk duduk bersama membahas batasan yang jelas.
Disney sendiri tampaknya telah menyiapkan strategi ganda dalam menyikapi era AI ini. Di satu sisi, mereka bersikap tegas terhadap pelanggaran, seperti yang dilakukan terhadap Character.AI dengan menuntut penghentian penggunaan karakternya. Di sisi lain, mereka juga membuka jalan kolaborasi yang legal.
“Disney telah mengambil tindakan serupa terhadap Character.AI, menuntut agar perusahaan rintisan tersebut segera menghentikan penggunaan karakter berhak ciptanya tanpa izin,” ungkap sumber yang mengetahui perkembangan tersebut.
Pada Desember lalu, Disney justru menandatangani perjanjian lisensi resmi dengan OpenAI. Kerja sama ini memberikan izin kepada OpenAI untuk menggunakan karakter dari franchise populer seperti Star Wars, Pixar, dan Marvel dalam generator video AI mereka, Sora. Langkah ini menunjukkan bahwa Disney membedakan dengan jelas antara penggunaan tanpa izin dan kemitraan bisnis yang sah dan terukur.
Artikel Terkait
Wuthering Heights Raup Rp 1,37 Triliun dalam Enam Hari, Geser Dominasi Box Office
Bapanas: Cuaca Ekstrem Hambat Panen, Picu Lonjakan Harga Cabai Rawit
Myanmar Usir Diplomat Timor-Leste Usai Dili Buka Kasus HAM terhadap Junta
MUI Tegaskan Sweeping Rumah Makan Saat Ramadan Tak Perlu, Sosialisasi Kunci Utama