Ramadhan Momentum Jihad Melawan Korupsi, Pengamat: Mulai dari Kesadaran hingga Pengawasan Publik

- Senin, 16 Februari 2026 | 16:20 WIB
Ramadhan Momentum Jihad Melawan Korupsi, Pengamat: Mulai dari Kesadaran hingga Pengawasan Publik

MURIANETWORK.COM - Bulan suci Ramadhan, yang dirayakan umat Muslim di seluruh Indonesia, seharusnya menjadi momentum untuk memperkuat integritas dan memerangi praktik korupsi. Menurut pandangan sejumlah pengamat, momentum spiritual ini idealnya dimanfaatkan untuk jihad melawan rasuah, mulai dari peningkatan kesadaran di rumah ibadah hingga penguatan peran masyarakat sipil sebagai pengawas.

Ramadhan Sebagai Momentum Perbaikan Diri dan Sosial

Kedatangan bulan penuh ampunan ini disambut sebagai tamu mulia. Bagi orang beriman, Ramadhan tidak hanya sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi lebih dalam lagi, ia merupakan saat yang tepat untuk menekan sikap rakus terhadap materi yang tidak halal. Praktik suap dan gratifikasi di lingkungan birokrasi dinilai sebagai penyakit yang harus dilawan bersama, sebagai bentuk jihad kontemporer.

Dalam konteks ini, kegiatan seperti tadarus dan kultum anti korupsi dianggap perlu digaungkan. Tujuannya adalah menyegarkan ingatan publik bahwa korupsi termasuk dosa besar yang dampak sosialnya sangat merusak. Safari Ramadhan pun diharapkan tidak hanya membahas topik keagamaan umum, tetapi juga mengelaborasi materi pemberantasan korupsi untuk membangun kepedulian kolektif.

Niat mulia memberantas korupsi ini diyakini harus dimulai dari setiap warga negara, lintas generasi. Tugas ini tidak bisa dibebankan hanya pada tokoh agama atau penegak hukum. Para akademisi dan masyarakat terdidik juga didorong untuk turun gunung, ambil bagian dalam menggelorakan semangat anti korupsi di ruang publik.

Terapi untuk Mengatasi Kerakusan

Pada hakikatnya, Ramadhan berfungsi sebagai katalisator perbaikan diri dan muhasabah. Bulan suci ini mengajak setiap individu, termasuk para pelaku korupsi, untuk merenung dan menghitung dampak negatif dari perbuatannya. Kerakusan duniawi yang selama ini dipeluk erat perlu segera diobati.

Ramadhan dianggap mampu mengerem tuas kerakusan tersebut. Sebab, ketamakan terhadap hal duniawi hanya akan menjerumuskan pada kebinasaan. Sebagaimana dijelaskan Al-Ghazali, seorang hamba akan meraih kebenaran dan mencapai predikat ma'rifatullah ketika dirinya keluar dari kungkungan fanatisme dan tipu muslihat duniawi (Al-Ghazali, Meretas Jalan Kebenaran, 2003).

Melalui terapi kerakusan ini, diharapkan muncul kesadaran untuk bangkit ke jalan yang benar. Karena itulah, semangat jihad anti korupsi di ruang publik dinilai tidak boleh padam. Perilaku koruptif dipandang sebagai kejahatan kemanusiaan yang tidak mengenal masa kadaluwarsa dan terus membayangi negeri.

Mengajarkan Kejujuran dan Respons yang Tepat

Untuk mengendalikan risiko korupsi yang sering terjadi di area gelap, diperlukan sorotan dan pendekatan baru. Cara-cara lama dan pemahaman usang dianggap sudah tidak relevan untuk memerangi pola korupsi abad 21 yang semakin canggih.

"Kita harus belajar dari setiap terjadinya risiko, jika mau selamat," ujar seorang pengamat.

Ramadhan mengajarkan untuk pandai membaca konteks. Pola korupsi yang terus berubah harus direspons dengan cepat dan tepat. Persoalannya, lingkaran birokrasi kerap dinilai surplus dalam ucapan namun defisit dalam tindakan nyata.

Editor: Redaksi MuriaNetwork


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar