MURIANETWORK.COM - Ekonomi Jepang hampir mengalami stagnasi pada kuartal terakhir 2025, dengan pertumbuhan yang jauh meleset dari proyeksi para analis. Data resmi yang dirilis Senin (16/2/2026) menunjukkan produk domestik bruto (PDB) hanya naik 0,1% dibanding kuartal sebelumnya. Angka yang jauh di bawah ekspektasi ini segera menempatkan pemerintahan Perdana Menteri Sanae Takaichi di bawah sorotan, menantangnya untuk mendorong pemulihan ekonomi yang lebih kuat pasca kemenangan besar partainya dalam pemilu sela awal bulan ini.
Kinerja Kuartalan yang Mengecewakan
Perlambatan ekonomi Jepang pada periode Oktober-Desember 2025 terasa lebih dalam dari yang diperkirakan. Pertumbuhan kuartal-ke-kuartal sebesar 0,1% itu kontras dengan prediksi para ekonom yang rata-rata memperkirakan ekspansi sebesar 0,4%. Pencapaian ini juga hanya mewakili pemulihan yang sangat terbatas dari kontraksi 0,7% yang terjadi pada kuartal Juli-September sebelumnya.
Dilihat secara tahunan, gambaran yang muncul tak kalah suram. Pertumbuhan year-on-year hanya mencapai 0,2%, tertinggal jauh dari perkiraan median sebesar 1,6%. Meski secara keseluruhan ekonomi Jepang tumbuh 1,1% sepanjang tahun kalender 2025 membalikkan kontraksi 0,2% di tahun 2024 momentumnya tampak kehilangan tenaga di penghujung tahun.
Tantangan Berat di Hadapan Perdana Menteri Takaichi
Data pertumbuhan yang lemah ini datang pada momen politik yang krusial bagi Sanae Takaichi. Setelah menjadi perdana menteri wanita pertama Jepang pada Oktober lalu, Takaichi mengambil langkah berani dengan membubarkan parlemen dan menggelar pemilu sela pada awal Februari. Strateginya terbukti jitu; Partai Demokrat Liberal (LDP) yang dipimpinnya berhasil meraih kemenangan telak, mengamankan sekitar dua pertiga kursi di majelis rendah.
Artikel Terkait
Prabowo Bawa Pulang Komitmen Investasi Rp574 Triliun dari Jepang dan Korea Selatan
Program Motis Lebaran 2026 Lampaui Target, Angkut Lebih dari 12.400 Sepeda Motor
Analisis: Kerugian AS Capai Rp817 Triliun dalam Sebulan Bentrokan dengan Iran
Macron Tolak Opsi Militer di Selat Hormuz, Desak Negosiasi dengan Iran