Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, baru-baru ini angkat bicara soal ancaman terselubung dalam perkembangan kecerdasan buatan. Praktik yang disebut 'data poisoning' ini, menurutnya, bukan cuma bisa bikin sistem AI kacau balau, tapi juga berimbas langsung ke kehidupan masyarakat. Intinya, bahaya ini nyata.
Dampak paling mengkhawatirkan? Tentu saja penyalahgunaan data pribadi kita. Makanya, Nezar Patria berkeras bahwa kunci untuk menghadapi risiko AI yang dimanipulasi terletak pada dua hal: kualitas data dan sistem keamanannya yang mumpuni.
"Artificial intelligence sangat rawan untuk menjadi kacau kalau terjadi data poisoning, misalnya data yang tidak bersih," tegasnya.
Dalam keterangan resminya, Wamen Nezar kemudian membeberkan tiga aspek krusial yang harus jadi fokus. Pertama, soal ketergantungan AI pada dataset. Logikanya sederhana: kalau data yang dimasukkan itu amburadul dan tidak standar, ya hasil keputusannya bakal melenceng. Ujung-ujungnya, masyarakat yang dirugikan.
"Jika kita ingin inovasi AI yang berkelanjutan dan berdaulat, maka manajemen data menjadi sangat penting. Kita butuh manajemen data yang kuat," ujarnya.
Aspek kedua yang dia soroti adalah regulasi. Menurut Nezar, aturan yang dibikin harus adaptif. Maksudnya, bisa melindungi privasi dan menjaga etika, tapi di saat bersamaan tidak mematikan ruang kreativitas dan inovasi. Memang sulit sih, mencari titik tengahnya.
"Kita mencoba memberikan proteksi tapi kita tidak bisa menghambat inovasi-inovasi. Jadi kita harus menyeimbangkan antara perlindungan dan pertumbuhan serta mencegah konsentrasi data yang melemahkan kedaulatan digital," jelasnya.
Langkah ketiga adalah menyusun standar manajemen data. Ini bukan kerjaan pemerintah sendirian, tapi perlu kolaborasi dengan sektor swasta. Tujuannya jelas: memastikan dataset yang dipakai untuk melatih AI itu bersih, relevan, dan benar-benar mewakili kondisi sebenarnya.
Nezar Patria lalu menekankan satu hal yang sering terlupa. Tantangan terberat sebenarnya bukan terletak pada kecanggihan teknologinya. Bukan. Masalah utamanya justru ada pada faktor manusia dan proses kerjanya.
"Problem dalam pemanfaatan teknologi terbaru ini bukan di teknologi yang terbesar, tapi pada people dan juga process. Tanpa talenta yang kompeten di bidang data dan AI, saya kira kedaulatan yang kita bicarakan hanya menjadi retorika saja," tegasnya sekali lagi.
Peringatannya cukup jelas. Di balik gemerlap inovasi AI, ada pekerjaan rumah besar yang menanti: menyiapkan SDM, memperkuat tata kelola data, dan membuat regulasi yang lincah. Kalau tidak, ya waspada saja. Imbasnya bisa ke mana-mana.
Artikel Terkait
BTN Targetkan 100 Gerai Digital di Mal Hingga 2027, Awali dengan Central Park
BI Proyeksikan Ekonomi Syariah Tumbuh Hingga 5,7% pada 2026
Bank Jakarta Resmi Dukung Pelita Jaya Basket, Perkuat Strategi Literasi Keuangan Lewat Olahraga
Ibu Erna dari Solo Sukses Bawa Tas Denim Bekas ke Pameran Nasional