Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, baru-baru ini angkat bicara soal ancaman terselubung dalam perkembangan kecerdasan buatan. Praktik yang disebut 'data poisoning' ini, menurutnya, bukan cuma bisa bikin sistem AI kacau balau, tapi juga berimbas langsung ke kehidupan masyarakat. Intinya, bahaya ini nyata.
Dampak paling mengkhawatirkan? Tentu saja penyalahgunaan data pribadi kita. Makanya, Nezar Patria berkeras bahwa kunci untuk menghadapi risiko AI yang dimanipulasi terletak pada dua hal: kualitas data dan sistem keamanannya yang mumpuni.
"Artificial intelligence sangat rawan untuk menjadi kacau kalau terjadi data poisoning, misalnya data yang tidak bersih," tegasnya.
Dalam keterangan resminya, Wamen Nezar kemudian membeberkan tiga aspek krusial yang harus jadi fokus. Pertama, soal ketergantungan AI pada dataset. Logikanya sederhana: kalau data yang dimasukkan itu amburadul dan tidak standar, ya hasil keputusannya bakal melenceng. Ujung-ujungnya, masyarakat yang dirugikan.
"Jika kita ingin inovasi AI yang berkelanjutan dan berdaulat, maka manajemen data menjadi sangat penting. Kita butuh manajemen data yang kuat," ujarnya.
Aspek kedua yang dia soroti adalah regulasi. Menurut Nezar, aturan yang dibikin harus adaptif. Maksudnya, bisa melindungi privasi dan menjaga etika, tapi di saat bersamaan tidak mematikan ruang kreativitas dan inovasi. Memang sulit sih, mencari titik tengahnya.
Artikel Terkait
Pembangunan Rusun di Bantaran Rel Senen Ditargetkan Mulai Mei 2026
Maarten Paes Raih Kiper Terbaik PSSI Awards 2026, Tekankan Pentingnya Kerja Kolektif
Dua Personel UNIFIL Tewas dalam Ledakan di Lebanon Selatan
KPK Tetapkan Dua Pengusaha Haji sebagai Tersangka Baru Kasus Korupsi Kuota