OpenAI, raksasa AI asal Amerika, baru-baru ini melayangkan tuduhan serius. Mereka menuding perusahaan saingan dari China, DeepSeek, telah menyontek model-model AI buatan AS. Tuduhan ini disampaikan lewat sebuah memo resmi yang ditujukan langsung ke Kongres.
Inti masalahnya, menurut OpenAI, terletak pada metode yang disebut distilasi. Singkatnya, DeepSeek dituding memanfaatkan output dari model AI OpenAI untuk melatih model mereka sendiri, yang dinamai R1. Cara ini dianggap sebagai jalan pintas. Alih-alih menggelontorkan dana raksasa untuk riset dan pelatihan dari nol, DeepSeek disebut hanya "menyaring" kemampuan yang sudah dikembangkan pesaingnya.
"Ada upaya yang terus-menerus untuk memanfaatkan kemampuan yang dikembangkan oleh OpenAI dan laboratorium terdepan AS lainnya," bunyi kutipan memo tersebut, seperti dilaporkan Bloomberg akhir pekan lalu.
Di sisi lain, praktik semacam ini jelas mengancam bisnis. OpenAI dan perusahaan AS sejenis seperti Anthropic sudah menginvestasikan miliaran dolar untuk infrastruktur. Mereka lalu mengenakan biaya berlangganan untuk layanan premium. Sementara itu, DeepSeek dan banyak startup AI China lainnya justru menawarkan teknologi serupa secara gratis. Bayangkan saja dampaknya terhadap persaingan pasar.
Kekhawatiran ini juga diamini oleh kalangan politisi di Washington. John Moolenaar, Ketua Komite China di DPR AS, tak ragu menyebut ini sebagai pencurian.
"Perusahaan-perusahaan China akan terus menyaring dan mengeksploitasi model AI Amerika untuk keuntungan mereka," tegas Moolenaar. "Sama persis ketika mereka menjiplak OpenAI untuk membangun DeepSeek."
Yang menarik, memo itu juga mengungkapkan bahwa upaya OpenAI untuk memblokir akses distilasi ternyata tidak sepenuhnya berhasil. Investigasi internal mereka menemukan sesuatu: akun-akun yang diduga terkait karyawan DeepSeek berusaha menghindari pengamanan. Caranya? Dengan mengakses sistem melalui router pihak ketiga.
Semua ini menunjukkan, perseteruan di balik layar industri AI ternyata jauh lebih panas dari yang kita bayangkan. Bukan cuma soal inovasi, tapi juga tentang perlindungan kekayaan intelektual di era digital.
Artikel Terkait
Mantan Wamenaker Noel Enggan Sebut Partai Penerima Dana Rp50 Juta di Sidang Tipikor
Wamenkominfo Nezar Patria Ingatkan Ancaman Data Poisoning dan Pentingnya Tata Kelola Data untuk AI
Bank Muamalat Catat KPR Syariah Tumbuh 17 Kali Lipat pada 2025
IFG Life dan Mandiri Inhealth Salurkan Klaim Rp10,7 Triliun kepada 1,1 Juta Peserta