Produksi emas Indonesia sepertinya mentok. Angkanya bertengger di kisaran 100 ton dan sulit naik. Padahal, potensi kita sebenarnya jauh lebih besar dari itu.
Lalu, apa yang menghambat? Menurut Ferdian Timur Satyagraha dari PT Pegadaian, salah satu biang keroknya adalah soal pajak. Struktur pajak domestik dinilainya kurang bersaing, bahkan lebih tinggi ketimbang skema untuk ekspor-impor. Hal ini ia sampaikan dalam seminar di FEB UI, Jumat lalu.
"Kenapa cuma 100 ton? Salah satunya ya terkait pajak ini. Posisi pajak domestik lebih tinggi dibandingkan pajak ekspor-impor sendiri,"
ujar Ferdian.
Memang, persoalan fiskal bukan satu-satunya. Tapi jelas jadi faktor penting yang perlu dicermati.
Di sisi lain, produksi juga sangat bergantung pada pasar. Permintaan dalam negeri yang masih rendah bikin industri tak bisa berproduksi secara optimal. Logikanya sederhana: kalau permintaannya kecil, untuk apa produksi ditingkatkan?
"Posisi produksi kan tergantung demand juga. Harapannya ke depan, makin banyak yang mulai investasi atau menabung emas. Itu akan mendorong optimalisasi produksi,"
tambahnya.
Artikel Terkait
Anggaran 2026 Bergerak Cepat, Belanja Negara Tembus Rp346,1 Triliun di Dua Bulan Pertama
Kapolri Tegaskan Sinergi TNI-Polri Kunci Jaga Stabilitas NKRI
Pemerintah Siapkan Tiga Skenario Keberangkatan Haji 2026 Antisipasi Konflik Timur Tengah
Polres Bogor Gelar Gerakan Pangan Murah di Stadion Pakansari Sambut Lebaran