BPI Danantara Resmi Bangun Pabrik Bioetanol Terintegrasi di Banyuwangi

- Sabtu, 07 Februari 2026 | 12:15 WIB
BPI Danantara Resmi Bangun Pabrik Bioetanol Terintegrasi di Banyuwangi

Dengan suara gemuruh alat berat, kawasan di Banyuwangi, Jawa Timur, akhirnya menyaksikan momen penting. Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara resmi memulai pembangunan pabrik bioetanol terintegrasi, sebuah langkah konkret hilirisasi yang menyentuh sektor pertanian sekaligus energi.

Rosan Roeslani, sang CEO Danantara, tampak antusias. Baginya, ini lebih dari sekadar proyek investasi belaka.

"Kita baru saja melakukan hal yang sangat penting," ujarnya, Sabtu (7/2/2026). "Dampaknya akan luas, mulai dari penyerapan tenaga kerja hingga pertumbuhan ekonomi daerah dan nasional."

Dia menegaskan, program ini merupakan bagian dari 18 agenda hilirisasi pemerintah yang tersebar di penjuru negeri. Targetnya jelas: menciptakan nilai tambah riil bagi perekonomian, membuka lapangan kerja, dan tentu saja, menambah pundi-pundi pendapatan negara.

Di sisi lain, dari kacamata pelaku energi, proyek ini punya arti strategis. Agung Wicaksono, Direktur Transformasi dan Kelanjutan Bisnis Pertamina, membeberkan detailnya. Pabrik yang dibangun di lahan seluas 10 hektare itu akan mengolah molase, limbah dari produksi gula, menjadi bahan bakar yang lebih bersih.

Kapasitasnya tak main-main: 30 ribu kiloliter bioetanol per tahun.

"Kolaborasi kami dengan Pertamina Supporting New and Renewable Energy dan SGN di Banyuwangi ini diharapkan bisa mendorong swasembada energi," jelas Agung. "Caranya ya lewat penguatan ekonomi rakyat."

Manfaatnya berlapis. Menurut Agung, kehadiran pabrik ini diproyeksikan bakal menghemat devisa yang cukup fantastis, yaitu sekitar USD 13,9 juta atau setara Rp 233,52 miliar per tahun yang biasanya habis untuk impor BBM. Belum lagi dampak lingkungannya.

"Ini akan menekan impor BBM dan menekan emisi karbon," katanya.

Agung melanjutkan, melalui substitusi impor itu, ketahanan energi bisa tercapai. Sementara pengurangan emisi karbon hingga 66 ribu ton CO2 ekuivalen per tahun akan berkontribusi pada tujuan keberlanjutan.

Lalu, ke mana hasil produksinya mengalir? Rencananya, bioetanol dari Banyuwangi akan dikirim ke terminal BBM Pertamina. Di sana, proses blending dilakukan sebelum akhirnya disalurkan ke masyarakat melalui jaringan SPBU di seluruh Indonesia.

Ini baru permulaan. Agung menyebut, ke depan wilayah implementasi akan diperluas dan kandungan etanolnya ditingkatkan. Harapannya, Indonesia bisa sejajar dengan negara-negara besar lain yang telah lebih dulu mengadopsi etanol sebagai bagian dari bahan bakar bersih mereka.

Sebuah langkah awal yang menjanjikan, dari ujung timur Pulau Jawa.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar