Transisi energi Indonesia tidak hanya bertumpu pada nuklir. Hashim menjelaskan bahwa Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPL) untuk dekade mendatang benar-benar mengedepankan proyek-proyek ramah lingkungan. Dari target pembangunan 70 gigawatt dalam sepuluh tahun ke depan, sebagian besar di antaranya akan berasal dari energi terbarukan.
"Banyak di antaranya, sebagian besar dari perusahaan seperti Masdar, ini adalah proyek hijau, proyek energi terbarukan, 76 persen di antaranya akan berasal dari perusahaan seperti Masdar dan lainnya," jelasnya.
Komposisi Energi dan Peran Gas Alam
Selain energi terbarukan dan nuklir, peta ketenagalistrikan nasional juga masih menyisakan ruang untuk gas alam. Hashim memandang sumber energi ini sebagai bagian penting dari masa transisi menuju sistem energi yang lebih bersih.
"Ini komitmen yang kuat, meskipun itu bukan solusi berbasis alam, tetapi itu hijau, itu adalah, katakanlah, energi netral karbon. Sisanya akan disediakan oleh gas alam, yang saya pikir semua pihak menganggap ini sebagai bahan bakar transisi," tuturnya.
Pernyataan-pernyataan ini memperlihatkan kerangka strategis yang sedang dibangun, di mana investasi asing, teknologi baru, dan diversifikasi sumber energi berjalan beriringan untuk mencapai target ketahanan dan keberlanjutan energi nasional.
Artikel Terkait
Kemnaker Hapus Batasan Tahun Kelulusan untuk Program Pelatihan Vokasi Nasional 2026
Indonesia Kembali Dipercaya FIFA Jadi Tuan Rumah FIFA Series 2026
Prabowo Tegaskan Penegakan Hukum dan Reformasi Aparat Jadi Prioritas
Monas Ramai Dikunjungi 13.500 Orang di Hari Kedua Lebaran