Tapi tentu saja dengan catatan panjang. Pezeshkian menegaskan, semua pembicaraan harus berdasar pada prinsip keadilan dan kesetaraan. Bukan ancaman. Dia juga menekankan pentingnya martabat dan kemanfaatan bagi Iran.
Latar belakang instruksi ini disebutkan karena desakan dari beberapa negara tetangga di kawasan. Mereka mendesak Iran agar merespons proposal Trump dan segera duduk di meja perundingan.
“Setiap negosiasi membutuhkan lingkungan yang bebas dari ancaman,” tegas Pezeshkian, menambahkan bahwa tuntutan yang tidak masuk akal juga harus disingkirkan.
Poin utamanya jelas: semua harus dalam kerangka kepentingan nasional Iran. Pernyataan itu dia sampaikan lewat sebuah postingan di media sosial X.
Nah, terlepas dari bantahan AS soal pertemuan, laporan dari Axios mengisyaratkan pembicaraan tingkat menlu bisa segera dimulai. Araghchi-lah yang akan jadi ujung tombak, berhadapan dengan Steve Witkoff dari pihak Amerika.
Semua perkembangan diplomatik ini terjadi dalam atmosfer yang cukup panas. Beberapa negara, termasuk Turki, dikabarkan aktif jadi penengah, berusaha meredakan ketegangan antara dua musuh bebuyutan ini. Jalan masih panjang. Dan berliku.
Artikel Terkait
Pramono Anung Beri Sinyal Tegas: Spanduk Parpol Izin Habis Langsung Ditertibkan
SKK Migas Pacu 39 Sumur Potensial untuk Kejar Target Produksi Minyak
KPK Gelar Dua OTT dalam Sehari: Banjarmasin dan Jakarta Jadi Sasaran
Prabowo Panggil Eks-Menlu Bahas Strategi di Tengah Gejolak Global