“Sawit dan tebu sudah berjalan. Selanjutnya, kita dorong singkong. Ini potensi besar kita,” ujarnya tegas.
Di sisi lain, ada program konkret yang sedang digenjot: mandatori biodiesel. Amran mengungkapkan, implementasi B50 diharapkan bisa menghentikan ketergantungan pada impor solar. “InsyaAllah, sesuai hasil koordinasi, tahun ini kita tidak impor lagi solar karena kita masuk ke B50,” tuturnya.
Dewan Energi Nasional sendiri punya peran sentral. Lembaga inilah yang merumuskan kebijakan energi nasional jangka panjang. Kehadiran seorang menteri pertanian di dalamnya tentu bukan tanpa alasan. Sinergi antara dua sektor vital ini diharapkan bisa melesatkan transisi energi yang berkelanjutan.
Ke depan, langkahnya akan lebih terfokus. Kementerian Pertanian berencana memperkuat hilirisasi, mengembangkan komoditas energi, dan memperluas budi daya tanaman biofuel. Skemanya akan dijalankan secara terintegrasi, dari hulu sampai hilir.
Harapannya, selain mendukung kedaulatan energi, langkah ini juga bisa menggerakkan ekonomi petani dan meningkatkan daya saing nasional. Sebuah pekerjaan besar yang baru saja dimulai.
Artikel Terkait
Roy Suryo Klaim Surat Perintah di Balik Perubahan Sikap Rismon Soal Ijazah Jokowi
Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei Dikabarkan Dirawat di Rusia Usai Dugaan Serangan
Hashim Minta ASN Junior Diprioritaskan Dapat Rumah Subsidi, Tawarkan Internet Rp100 per Bulan
Ekspor Listrik Hijau ke Singapura Jadi Pintu Masuk Investasi Industri Teknologi Tinggi