Rabu lalu, di depan para wartawan, Ketua Lembaga Sensor Film (LSF) Naswardi menyampaikan sebuah optimisme yang menarik. Industri film kita, katanya, sedang dalam momentum yang tepat. Bukan cuma untuk bertahan, tapi untuk melesat.
Pernyataannya itu disampaikan saat konferensi pers laporan kinerja LSF tahun 2025. Intinya, LSF punya komitmen kuat untuk mendorong film nasional agar tak cuma jago di kandang sendiri. Mereka harus berani merambah pasar regional dan global. Ini soal potensi ekonomi kreatif, yang memang sedang jadi sorotan.
Menurut Naswardi, daya tarik pasar film Indonesia sudah tak diragukan lagi. Faktanya, ada 19 negara yang karyanya tayang di sini. Mulai dari raksasa Hollywood, gelombang Korea, sampai film China. Negeri kita jadi incaran.
“Pada saat film global ini stagnan di angka 2 persen, film nasional kita ini tumbuh di angka 5–6 persen,” ujarnya.
Lalu dia menambahkan, “Maka pasar Indonesia adalah pasar potensial yang diperebutkan oleh berbagai pasar film dari berbagai negara di dunia.”
Namun begitu, kondisi ini ibarat pedang bermata dua. Di satu sisi, kita diserbu produk impor. Di sisi lain, pertumbuhan film lokal yang sehat harus dijaga. Tantangannya adalah bagaimana merawat pasar untuk kepentingan film nasional, tanpa menutup diri.
LSF punya strategi. Mereka tak ingin para produser hanya puas dengan pasar domestik yang sudah ramai. Ambisinya lebih besar.
"LSF ingin mendorong para rumah produksi di Indonesia untuk juga tidak hanya berfokus pada pasar dalam negeri tetapi juga pasar di kawasan ASEAN maupun Asia maupun dunia,” tegas Naswardi.
Sayangnya, penetrasi film kita di kawasan masih minim. Film Thailand dan Malaysia, misalnya, justru lebih banyak masuk ke Indonesia. Untuk membalik keadaan, LSF berencana memperkuat jejaring. Mereka akan gandeng lembaga sensor film di Malaysia, Thailand, hingga Korea Selatan.
Idenya sederhana: membuka ruang bersama. Agar film Indonesia bisa dapat izin tayang lebih mudah di negara lain, dan sebaliknya. Harapannya, akses distribusi terbuka lebar.
Semua upaya ini, pada akhirnya, bermuara pada satu tujuan: memperkuat kontribusi nyata industri film bagi perekonomian nasional. Jalan masih panjang, tapi langkah awalnya sudah mulai terlihat.
Artikel Terkait
KSPSI Pastikan Biaya May Day di Monas Tidak Gunakan APBN Sepeser Pun
Bosch Targetkan Pertumbuhan Penjualan 2-5 Persen pada 2026, Genjot Inovasi dan Ekspansi Pasar Global
Influencer China Bai Bing Didenda Rp47,98 Miliar Akibat Kurang Bayar Pajak
Uni Eropa Dakwa Meta Gagal Lindungi Anak di Bawah 13 Tahun dari Akses Facebook dan Instagram