- 2023: 1.751 unit
- 2024: 1.256 unit (turun 0,3%)
- 2025: 2.468 unit (melonjak 96,5%)
Menurut Prof. Agus Purwadi, peneliti senior dari Pusat Sistem Transportasi Berkelanjutan ITB, melihat fenomena ini harus dari sudut pandang yang luas. Jangan parsial.
“Kita harus melihatnya secara komprehensif supaya industri yang sudah matang tidak rontok, tetapi yang baru datang juga tetap berkembang,” ujarnya.
Agus menekankan, kedatangan pemain baru yang berniat membangun industri di dalam negeri justru perlu didukung. Tujuannya agar Indonesia bisa menjadi basis produksi global yang lebih solid.
“Kalau merek Jepang di sini basis lokalnya memang sudah lebih dominan dan matang karena sudah lama sekali sejak tahun 70-an. Korea dan China yang ekosistemnya masih baru harus ikut tumbuh bersama-sama, jangan justru timpang,” tambahnya.
Namun begitu, tantangan terbesar ada di tangan pemerintah. Bagaimana merumuskan kebijakan industri yang kompetitif, sekaligus mengembangkan SDM. Ruang untuk teknologi baru harus tetap terbuka, tapi jangan sampai mengorbankan industri yang selama ini sudah memberikan kontribusi nyata.
“Kalau bisa menumbuhkan yang baru, jangan mematikan yang lama, yang lama dipelihara dan ditransformasi. Sementara pemain baru didorong agar lokalisasinya kuat dan benar-benar punya basis di sini,” tandas Agus.
Intinya, semua harus tumbuh bersama. Yang tua tak boleh lengah, yang baru harus punya komitmen serius. Itulah kunci agar industri otomotif nasional tak hanya ramai, tapi juga benar-benar kuat.
Artikel Terkait
Anggota DPR Desak Pemerintah Siagakan Diri Hadapi Ancaman Virus Nipah
LSF Bakal Gratiskan Sensor Film Edukasi, Godok Aturan Tayang Bioskop vs Streaming
Boiyen Ajukan Cerai, Pernikahan Baru Tiga Bulan Berantakan
Onadio Leonardo Akhirnya Bebas, Ungkap Perjuangan Tiga Bulan di Rehabilitasi