Pendapatan negara dari tambang mineral dan batu bara diproyeksikan melonjak pada 2025, bahkan melampaui target. Angkanya cukup fantastis: Rp138,37 triliun, jauh di atas patokan awal Rp127,44 triliun. Nah, di tengah prospek cerah ini, muncul desakan agar iklim investasi di sektor ini benar-benar dijaga.
Kolaborasi erat antara pemerintah dan pelaku usaha dinilai kunci. Menurut Asosiasi Pertambangan Indonesia (API-IMA), menjaga investasi itu tugas bersama. Tanpa sinergi yang solid, target-target semacam itu bisa jadi sekadar angka di atas kertas.
Ketua Umum API-IMA, Rachmat Makkasau, secara khusus menyoroti satu kasus. Dia mengajak semua pihak untuk memastikan penilaian yang adil terhadap PT Agincourt Resources, pengelola Tambang Martabe di Sumatera Utara.
Rachmat menambahkan, perusahaan yang beroperasi dengan baik dan taat aturan seharusnya bisa terus berjalan. “Perusahaan-perusahaan yang mengedepankan aspek-aspek Environmental, Social dan Governance (ESG), serta mematuhi peraturan yang berlaku, termasuk aspek pengelolaan lingkungan hidup - tentunya akan tetap dapat beroperasi. Ini penting untuk memastikan bahwa iklim investasi di sektor pertambangan tetap kondusif,” tegasnya.
Keyakinannya itu punya dasar. Agincourt, misalnya, telah meraih Proper Hijau sebuah indikator tata kelola lingkungan yang baik. Performa operasionalnya juga dianggap sudah sesuai jalur.
Artikel Terkait
Boiyen Ajukan Cerai, Pernikahan Baru Tiga Bulan Berantakan
Onadio Leonardo Akhirnya Bebas, Ungkap Perjuangan Tiga Bulan di Rehabilitasi
Wamenpar: Indonesia Harus Jadi Produsen, Bukan Pasar, Pariwisata Halal Global
Pemerintah Dorong Hunian Murah di Dekat Pabrik untuk Ringankan Beban Buruh