Gaikindo Belum Berani Tancap Gas, Target Penjualan Mobil 2026 Masih Mengambang

- Selasa, 27 Januari 2026 | 06:30 WIB
Gaikindo Belum Berani Tancap Gas, Target Penjualan Mobil 2026 Masih Mengambang

Industri otomotif nasional memasuki tahun 2026 dengan langkah yang agak ragu. Pasalnya, catatan penjualan mobil sepanjang 2025 ternyata tak secemerlang tahun sebelumnya. Hal ini membuat Gaikindo, asosiasi para produsen mobil, belum juga menetapkan target penjualan resmi untuk tahun ini.

Jongkie D. Sugiarto, selaku Ketua I Gaikindo, mengaku belum ada pembicaraan serius dengan seluruh anggotanya soal angka proyeksi. Menurutnya, keputusan semacam ini tak bisa diambil sepihak. Harus ada kesepakatan bersama dulu.

"Jujur saya belum rapat dengan anggota. Ayo sama-sama kita tentuin, proyeksinya berapa tahun ini," ujar Jongkie dalam sebuah pertemuan di Jakarta Selatan.

"Saya nggak bisa memutuskan sendiri. Harus bicara dengan anggota," lanjutnya.

Ia punya alasan untuk bersikap hati-hati. Performa pasar mobil tahun ini, menurut Jongkie, bakal sangat ditentukan oleh banyak hal di luar kendali mereka. Kebijakan pemerintah, kondisi ekonomi makro, sampai kesehatan sektor perbankan, semuanya akan berpengaruh.

Angka penjualan tahun lalu mungkin bisa jadi gambaran. Jongkie menyebut, realisasi penjualan di 2025 mencapai 803 ribu unit lebih. Tapi, angka itu sebenarnya turun sekitar 7% dibandingkan tahun 2024.

Secara rinci, data wholesales atau penjualan ke dealer sepanjang Januari-Desember 2025 memang tercatat 803.687 unit. Penurunan 7,2 persen itu cukup signifikan jika dibanding periode sama di 2024.

Namun begitu, ada sisi positif yang patut dicatat. Meski turun tahunan, angka 2025 itu ternyata masih melampaui target awal Gaikindo yang cuma 780 ribu unit. Pencapaian ini tak lepas dari kinerja gemilang di akhir tahun.

Desember 2025 kemarin benar-benar menjadi penyelamat. Penjualan wholesale melonjak hingga 94.100 unit, naik drastis 25,7% dibanding Desember 2024, dan bahkan melesat 26,9% dari bulan November.

Jongkie menambahkan, situasi makroekonomi adalah kunci. Ia menyebutkan sederet faktor yang saling berkait kelindan: suku bunga, nilai tukar rupiah, hingga target pertumbuhan ekonomi pemerintah.

"Dan di tahun 2026, kalau pemerintah positif, optimis, pertumbuhan ekonomi, plus perbankan, suku bunga. Banyak faktor yang akan memengaruhi proyeksi tadi," jelasnya.

Satu sinyal baik datang dari suku bunga acuan BI yang sekarang berada di level 4,75%. Jongkie menganggap ini positif. Tapi ia tak mau terburu-buru optimis. Semua harus dilihat secara realistis, sambil berjalan.

"Jadi nggak cuma satu faktornya. Ada nilai tukar, suku bunga sekarang BI rate 4,75 bagus. Kita lihat saja. Terus pertumbuhan ekonomi, katanya targetnya 5,5%–6%. Bagus, kita lihat kenyataannya nanti sambil berjalan," tegas Jongkie menutup pembicaraan.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar