Dia bilang, industri game ini sebenarnya adalah sumber kekayaan intelektual dengan rantai nilai ekonomi yang panjang sekali. Monetisasinya nggak cuma dari penjualan game atau top up doang. Tapi bisa merambah ke merchandise, komik, animasi, sampai kolaborasi dengan UMKM dan ritel.
Di sisi lain, Roro menekankan soal pentingnya membangun jalur monetisasi yang konkret dan inklusif. Tujuannya jelas: menjembatani antusiasme tinggi para gamer dengan transaksi ekonomi yang sehat dan bisa bertahan lama.
Meski tantangannya nyata, optimisme tetap mengemuka. Dengan sinergi yang kuat, industri game dalam negeri diyakini bisa tumbuh secara berkelanjutan dan akhirnya bersaing di kancah global. Semoga saja.
Artikel Terkait
BTN Pacu Laba 22 Persen, Siapkan Investasi Triliunan untuk 2026
Manajer Lula Lahfah Penuhi Panggilan Polisi, Pemeriksaan Berlangsung Hampir Seharian
BNI Salurkan Rp88 Triliun Kredit dari Dana Pemerintah Rp55 Triliun
Waspada, Banjir Bawa Ancaman Tersembunyi: Listrik!