Dia bilang, industri game ini sebenarnya adalah sumber kekayaan intelektual dengan rantai nilai ekonomi yang panjang sekali. Monetisasinya nggak cuma dari penjualan game atau top up doang. Tapi bisa merambah ke merchandise, komik, animasi, sampai kolaborasi dengan UMKM dan ritel.
Di sisi lain, Roro menekankan soal pentingnya membangun jalur monetisasi yang konkret dan inklusif. Tujuannya jelas: menjembatani antusiasme tinggi para gamer dengan transaksi ekonomi yang sehat dan bisa bertahan lama.
Meski tantangannya nyata, optimisme tetap mengemuka. Dengan sinergi yang kuat, industri game dalam negeri diyakini bisa tumbuh secara berkelanjutan dan akhirnya bersaing di kancah global. Semoga saja.
Artikel Terkait
Mentan Zulhas Pastikan Konflik Timur Tengah Tak Pengaruhi Ketahanan Pangan Nasional
Laba Bersih Bank Jago Melonjak 114% pada 2025, Didorong Pertumbuhan Nasabah
RUU Hak Cipta Usulkan Karya Jurnalistik Dilindungi Hak Eksklusif dan Royalti
Pemerintah Rencanakan Pagar Raksasa untuk Atasi Konflik Gajah-Manusia di Way Kambas