Langit di atas Jakarta dan Jawa Barat akhir-akhir ini tak henti-hentinya dikawal oleh lima pesawat. Mereka bukan pesawat biasa, melainkan armada khusus yang ditugaskan untuk 'menjinakkan' hujan. Ini adalah operasi modifikasi cuaca (OMC) yang digelar Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), sebuah respons langsung atas peringatan dini cuaca ekstrem dari BMKG.
Menurut Abdul Muhari, Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, operasi ini merupakan arahan presiden. Tujuannya jelas: meredam potensi curah hujan tinggi yang diprediksi bakal mengguyur wilayah tersebut di paruh kedua dan ketiga Januari ini.
“Ini arahan langsung dari presiden untuk mereduksi curah hujan tinggi yang diperkirakan mengguyur wilayah Jawa Barat dan Jakarta pada periode dasarian kedua dan ketiga bulan Januari,”
Operasi sebenarnya sudah dimulai sejak 12 Januari lalu. Awalnya, hanya dua pesawat yang beraksi dari Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma: satu milik BNPB, satu lagi dari BPBD DKI. Namun, melihat ancaman yang kian nyata, BNPB memutuskan untuk menambah kekuatan. Sejak 23 Januari, tiga pesawat Carravan lagi diterbangkan. Salah satunya bahkan beroperasi dari Bandung, dengan fokus mengawasi wilayah hulu.
Hasilnya? Hingga Jumat lalu, kelima armada itu telah melakukan 70 kali penerbangan. Mereka menaburkan puluhan ton bahan semai campuran Natrium Klorida dan Kalsium Oksida ke awan-awan yang mengancam.
Namun begitu, fokus BNPB tak hanya tertuju di Pulau Jawa. Di Sumatera dan Jawa Tengah, operasi serupa masih terus berjalan. Di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, masing-masing satu pesawat disiagakan untuk menangani dampak banjir bandang. Sementara di Jawa Tengah, dua pesawat berusaha 'mengeringkan' wilayah yang terendam, mempercepat proses pemulihan pasca bencana.
Lantas, apa yang mendasari kewaspadaan tinggi ini? BMKG memprediksi bahwa pada dasarian ketiga Januari nanti, hujan dengan intensitas menengah hingga tinggi akan melanda banyak wilayah. Daerah seperti Banten, Jakarta, Jawa Barat, hingga Jawa Timur bahkan berpotensi mengalami hujan kategori tinggi. Yang paling mengkhawatirkan adalah Maros di Sulawesi Selatan, yang masuk dalam kategori 'sangat tinggi' dengan curah hujan diperkirakan melampaui 300 mm.
Menyikapi hal ini, BNPB pun mengeluarkan imbauan keras. Masyarakat, terutama yang tinggal di daerah rawan banjir atau longsor, diminta untuk selalu memantau prakiraan cuaca. Bersiap-siap itu penting. Mulai dari menyimpan dokumen berharga di tempat aman, menyiapkan tas siaga bencana, hingga mengetahui jalur evakuasi terdekat. Kewaspadaan harus ditingkatkan, terutama saat hujan turun lama dan lebat. Jika kondisi dirasa membahayakan, evakuasi mandiri harus segera dilakukan.
Operasi di langit terus berlanjut. Di bawah, kesiapsiagaan pun harus diperkuat. Cuaca memang tak bisa sepenuhnya dikendalikan, tapi dampak buruknya bisa diupayakan untuk diminimalisir.
Artikel Terkait
Empat Tewas dalam Serangan Israel di Lebanon Selatan Meski Gencatan Senjata
Kemenag Petakan 177 Hotel di Lima Wilayah Makkah untuk Haji 2026
AS Cegat Kapal ‘Armada Bayangan’ Iran di Laut Arab, Diplomasi dengan Pakistan Batal Total
Menteri Pertanian Bantah Data Swasembada Beras Rekayasa, Beberkan Kebijakan Pompanisasi hingga Cetak Sawah