Namun begitu, kalau dilihat dari peta persaingan regional, posisi Indonesia masih ada PR-nya. Widiyanti secara transparan mengakui bahwa dari sisi jumlah kunjungan absolut, Indonesia masih duduk di peringkat kelima di ASEAN untuk periode Januari-November 2025.
Tantangannya beragam. Brand awareness negara tetangga seperti Thailand, yang gencar lewat diplomasi kulinernya, jauh lebih kuat. Belum lagi soal kebijakan visa Indonesia yang dinilai masih relatif lebih ketat dibandingkan pesaing.
Tapi jangan salah. Dari sudut pandang pertumbuhan, ceritanya berbeda. Indonesia justru menduduki peringkat kedua tertinggi di kawasan. Widiyanti lantas menekankan satu hal penting: soal metode perbandingan data yang harus apple-to-apple.
“Jika kita membandingkan dengan Malaysia, misalnya, kita perlu mengecualikan data ekskursionis, yakni pelancong yang hanya melintas singkat untuk kebutuhan harian. Dengan perbandingan yang setara, pertumbuhan Indonesia sangat kompetitif,” katanya.
Pernyataan itu disampaikan Menpar melalui laman resmi kementeriannya pada Kamis lalu, 22 Januari 2026. Intinya, optimisme itu ada, meski tantangan di lapangan tak bisa dianggap enteng.
Artikel Terkait
Bapanas Pastikan Stok Pangan Aman dan Program Intervensi Berlanjut hingga Lebaran
OJK Sempurnakan Aturan Keuangan Berkelanjutan untuk Perkuat Tata Kelola ESG
Satlantas Bekasi Tutup 30 Titik Putar Balik di Jalur Pantura untuk Antisipasi Macet Mudik
Megawati Kirim Surat Pribadi ke Pemimpin Tertinggi Iran, Soroti Warisan Bung Karno