Platform tersebut rupanya dirancang sebagai ekosistem pemberdayaan. Fiturnya beragam, mulai dari alat penilaian mandiri untuk mengukur level usaha, ratusan modul pelatihan, hingga pendampingan dan etalase digital. Intinya, membantu UMKM naik kelas dengan pendekatan yang lebih terstruktur, namun tetap aplikatif.
Natalia pun mengadopsi ilmunya untuk mengelola penjualan. Saat ini, NM Kitchen mengandalkan WhatsApp dan Instagram sebagai ujung tombak. Semua pesanan masuk lewat sana, komunikasi dengan pelanggan juga terjalin langsung. Di dapur, ia memastikan semua bahan tetap fresh dan proses produksi dikerjakan sendiri. Konsistensi rasa adalah harga mati.
Di sisi lain, komitmen BRI dalam mendukung UMKM seperti ini diungkapkan oleh Direktur Micro BRI, Akhmad Purwakajaya.
“LinkUMKM kami buat untuk memperkuat kemampuan pelaku usaha lewat pembelajaran yang aplikatif, pendampingan, dan akses pasar. Kisah NM Kitchen membuktikan bahwa ekosistem yang tepat bisa mempercepat penguatan kapasitas usaha,” jelas Akhmad.
“Kami akan terus mendorong UMKM agar makin tangguh dan siap jadi penggerak ekonomi.”
Cerita NM Kitchen mungkin mirip dengan banyak usaha keluarga lain. Bermodal resep warisan dan ketekunan. Tapi yang menarik, di tengah arus digital dan persaingan ketat, dukungan yang tepat bisa jadi katalisator. Membuat camilan berbasis resep keluarga itu tak hanya bertahan, tapi juga perlahan menapak naik.
Artikel Terkait
KPK Beraksi Dua Kali Sehari, Istana: Pekerjaan Rumah yang Harus Diperangi
Angkringan: Ruang Tamu Bersama yang Menyimpan Ribuan Cerita
Konektivitas Transjakarta Hampir Sempurna, Tapi Penumpang Masih Sepi
Rotasi Pejabat Ekonomi: Momentum Perkuat Sinkronisasi Fiskal-Moneter