Rencana Donald Trump untuk mengenakan tarif 10% pada delapan negara Eropa telah mengguncang Brussel. Langkah ini, yang disebut-sebut sebagai bentuk tekanan atas penentangan mereka terhadap aneksasi Greenland, langsung memicu gelombang perdebatan sengit di kalangan pemimpin Uni Eropa. Mereka kini sedang mempertimbangkan dengan matang, bagaimana cara terbaik untuk membalas.
Pilihan yang ada di meja tidaklah sederhana. Ada tiga opsi utama yang beredar: menggunakan senjata perdagangan baru yang dijuluki "Trade Bazooka", menerapkan tarif balasan, atau bahkan menangguhkan kesepakatan dagang dengan AS yang sebenarnya belum juga berlaku. Semuanya punya risiko dan konsekuensinya masing-masing.
Untuk menyepakati strategi, para kepala negara dan pemerintahan UE akan menggelar pertemuan darurat pada Kamis mendatang, 22 Januari. Suasana di ibu kota Belgia itu jelas tegang.
Perdana Menteri Denmark, Mette Frederiksen, bersikap keras.
"Eropa tidak akan diintimidasi," tegasnya.
Sementara Kanselir Jerman, Friedrich Merz, mencoba nada yang lebih berhati-hati.
"Kami tidak ingin sengketa perdagangan dengan AS," ujarnya.
Namun begitu, kenyataannya sengketa itu sudah terjadi. Denmark, Norwegia, Swedia, Prancis, Jerman, Belanda, Inggris, dan Finlandia kini menjadi target Trump. Alasannya? Negara-negara itu sebelumnya mengirimkan perwakilan militer ke Greenland sebagai bentuk solidaritas dengan Denmark. Greenland sendiri, meski otonom, masih menjadi bagian dari Kerajaan Denmark sejak 1953.
Mengulik "Trade Bazooka", Senjata Berat yang Belum Pernah Dicoba
Di koridor-koridor gedung Komisi Eropa, yang ramai diperbincangkan adalah "Trade Bazooka". Itu adalah nama slang untuk instrumen anti-pemaksaan (Anti-Coercion Instrument/ACI) yang disepakati pada 2023. Senjata ini belum pernah digunakan sebelumnya, dan dampaknya bisa sangat luas mulai dari membatasi akses pasar perusahaan AS di Eropa hingga melarang investasi.
Presiden Prancis Emmanuel Macron disebut-sebut mendorong penggunaan alat ini. Tapi tidak semua setuju. Perdana Menteri Italia, Georgia Meloni, misalnya, dilaporkan masih ragu-ragu.
Penny Naas, Wakil Presiden senior German Marshall Fund, mengakui kekuatan ACI namun juga mengingatkan kelemahannya.
"ACI punya banyak alat yang bisa berdampak, misalnya mengendalikan pengadaan atau ekspor bahan penting untuk rantai pasok AS," katanya.
"Tapi, alat ini membutuhkan waktu untuk diterapkan. Tidak instan."
Menariknya, ACI awalnya dirancang untuk menghadapi tekanan ekonomi dari China, bukan sekutu dekat seperti Amerika. Ignacio Garca Bercero, mantan negosiator utama UE, berpendapat bahwa ancaman Trump terhadap Greenland justru memenuhi syarat penggunaan ACI.
"Apa yang terjadi sekarang dengan Greenland adalah kasus paling jelas dari pemaksaan," kata Bercero. "Ini ancaman terhadap integritas teritorial negara anggota UE."
Tarif Balasan Senilai Rp1,82 Kuadriliun: Cukupkah?
Opsi lain yang mungkin diambil dari hasil KTT nanti adalah menghidupkan kembali paket tarif balasan senilai €93 miliar atau sekitar Rp1,82 kuadriliun terhadap produk-produk AS. Paket ini sebenarnya sudah disiapkan sejak awal 2025 sebagai antisipasi.
Banyak yang meragukan efektivitasnya. Nilai segitu mungkin terlihat lembek di mata Gedung Putih. Tapi Heather Grabbe dari lembaga think tank Bruegel punya pandangan berbeda. Ia yakin tekanan pada ekonomi AS, apalagi jelang pemilu tengah periode, bisa signifikan.
"Tarif ini dipilih untuk memberikan tekanan pada perusahaan yang bisa melobi Trump, misalnya produsen rokok Amerika," jelas Grabbe di Brussels.
"Tapi kita harus ingat, perang dagang timbal balik juga bakal merugikan Eropa. Kita kan berorientasi ekspor. Di sisi lain, harga barang di AS juga sudah naik karena kebijakan Trump sendiri, dan itu bisa memengaruhi elektabilitas Partai Republik."
Strategi Ketiga: Main di Arena Regulasi
Selain tarif menukik, ada opsi ketiga yang lebih halus namun berpotensi menusuk: membatalkan kesepakatan perdagangan 2025 dengan AS. Kesepakatan itu sendiri kontroversial. Intinya, UE setuju tarif 15% (bukan 20% seperti ancaman awal Trump) sebagai imbalan pembukaan pasar nol persen dari AS dan penundaan paket €93 miliar tadi.
Alberto Alemanno, Profesor Hukum UE di HEC Paris, dulu menyebut kesepakatan itu "penyerahan ekonomi". Sekarang, menurutnya, Eropa punya peluang untuk menekan AS di area yang paling sensitif: regulasi.
"Pengaruh sebenarnya Eropa bukan dari menyaingi tarif Trump," tegas Alemanno.
"Pengaruh itu datang dari apa yang paling mengganggu pemerintahan Amerika: standar tinggi Eropa. Mulai dari perlindungan data, tata kelola AI, sampai akuntabilitas korporasi global. Yang harus dilakukan Eropa adalah memperkuat penegakan aturan dan mengekspor standar regulasinya lebih agresif."
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris.
Diadaptasi oleh Rahka Susanto
Editor: Yuniman Farid
Artikel Terkait
Polda Metro Jaya Gerebek Laboratorium Narkoba Etomidate di Apartemen Tangerang
Iran Sebut Perpanjangan Gencatan Senjata Trump Tak Ada Artinya
22 April dalam Sejarah: Dari Perjanjian Zaragoza hingga Hari Bumi dan KTT Asia-Afrika
Menteri Ungkap Indikasi Kecurangan di Hari Pertama UTBK SNBT 2026