"Apa yang terjadi sekarang dengan Greenland adalah kasus paling jelas dari pemaksaan," kata Bercero. "Ini ancaman terhadap integritas teritorial negara anggota UE."
Tarif Balasan Senilai Rp1,82 Kuadriliun: Cukupkah?
Opsi lain yang mungkin diambil dari hasil KTT nanti adalah menghidupkan kembali paket tarif balasan senilai €93 miliar atau sekitar Rp1,82 kuadriliun terhadap produk-produk AS. Paket ini sebenarnya sudah disiapkan sejak awal 2025 sebagai antisipasi.
Banyak yang meragukan efektivitasnya. Nilai segitu mungkin terlihat lembek di mata Gedung Putih. Tapi Heather Grabbe dari lembaga think tank Bruegel punya pandangan berbeda. Ia yakin tekanan pada ekonomi AS, apalagi jelang pemilu tengah periode, bisa signifikan.
"Tarif ini dipilih untuk memberikan tekanan pada perusahaan yang bisa melobi Trump, misalnya produsen rokok Amerika," jelas Grabbe di Brussels.
"Tapi kita harus ingat, perang dagang timbal balik juga bakal merugikan Eropa. Kita kan berorientasi ekspor. Di sisi lain, harga barang di AS juga sudah naik karena kebijakan Trump sendiri, dan itu bisa memengaruhi elektabilitas Partai Republik."
Strategi Ketiga: Main di Arena Regulasi
Selain tarif menukik, ada opsi ketiga yang lebih halus namun berpotensi menusuk: membatalkan kesepakatan perdagangan 2025 dengan AS. Kesepakatan itu sendiri kontroversial. Intinya, UE setuju tarif 15% (bukan 20% seperti ancaman awal Trump) sebagai imbalan pembukaan pasar nol persen dari AS dan penundaan paket €93 miliar tadi.
Alberto Alemanno, Profesor Hukum UE di HEC Paris, dulu menyebut kesepakatan itu "penyerahan ekonomi". Sekarang, menurutnya, Eropa punya peluang untuk menekan AS di area yang paling sensitif: regulasi.
"Pengaruh sebenarnya Eropa bukan dari menyaingi tarif Trump," tegas Alemanno.
"Pengaruh itu datang dari apa yang paling mengganggu pemerintahan Amerika: standar tinggi Eropa. Mulai dari perlindungan data, tata kelola AI, sampai akuntabilitas korporasi global. Yang harus dilakukan Eropa adalah memperkuat penegakan aturan dan mengekspor standar regulasinya lebih agresif."
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris.
Diadaptasi oleh Rahka Susanto
Editor: Yuniman Farid
Artikel Terkait
Golkar MPR Siapkan Obligasi Daerah untuk Atasi Tekanan Anggaran
Pascabencana Sumatera, Sekolah Berjalan dengan Sistem Darurat
Sinergi KP2MI-Polri Perkuat Perlindungan Pahlawan Devisa
Guru SD di Serpong Terancam 12 Tahun Bui, Diduga Cabuli 25 Murid