Empat Tahun InJourney: Dari Transformasi Bandara hingga Pariwisata Berkelanjutan

- Selasa, 20 Januari 2026 | 15:12 WIB
Empat Tahun InJourney: Dari Transformasi Bandara hingga Pariwisata Berkelanjutan

Sudah empat tahun PT Aviasi Pariwisata Indonesia, atau yang lebih dikenal sebagai InJourney, hadir di Tanah Air. Sebagai holding BUMN di sektor aviasi dan pariwisata, perjalanan mereka tak cuma soal angka. Ada serangkaian inisiatif strategis yang digulirkan, mulai dari transformasi bandara dan perluasan konektivitas udara, hingga pengembangan destinasi seperti Borobudur dan Taman Mini. Mereka juga merambah pembangunan International Medical Tourism di KEK Sanur, plus pengembangan Mandalika dan Golo Mori.

Menurut Direktur Utama InJourney, Maya Watono, capaian selama empat tahun ini adalah fondasi. Fondasi untuk menjalankan peran ganda: sebagai pencipta nilai sekaligus agen pembangunan.

"Transformasi bisnis yang dilakukan selama empat tahun terakhir telah menjadi fondasi yang kokoh," ujar Maya.

Dia menambahkan, fondasi ini untuk membangun InJourney menjadi BUMN yang transparan dan akuntabel, yang dampaknya bisa dirasakan berkelanjutan. Ke depan, transformasi akan terus berjalan dengan tetap adaptif menghadapi perubahan yang cepat.

"Kami berharap seluruh prakarsa InJourney, dengan dukungan penuh para pemangku kepentingan, mampu menciptakan nilai yang lebih besar bagi perekonomian nasional," tuturnya.

Memasuki usia keempat, Maya menegaskan komitmen terhadap keberlanjutan sebagai arah utama. Tema "InJourney 4 Tahun Bersama Berkarya, Lestarikan Indonesia" dijadikan pegangan.

"Keberlanjutan diposisikan sebagai kerangka berpikir dan bertindak dalam setiap inisiatif jangka panjang," jelas Maya. Tujuannya, menjadikan pariwisata sebagai investasi lintas generasi yang menyeimbangkan ekonomi, lingkungan, dan pemberdayaan sosial.

Di sisi lain, Komisaris Utama InJourney, Iwan Setyawan, punya pandangan menarik. Baginya, tema tahun ini mencerminkan strategi holding dalam menghadirkan pengalaman berwisata yang bernilai.

"Pariwisata tidak cukup hanya dikelola, tetapi harus dikaryakan," tegas Iwan.

Menurutnya, berkarya adalah tentang menciptakan pengalaman, memberi makna, dan meninggalkan dampak. "InJourney harus menjadi contoh bahwa pariwisata yang baik adalah pariwisata yang mengangkat martabat dan kesejahteraan masyarakat setempat," pungkasnya.

Dua Pilar Utama: Lingkungan dan Sosial-Ekonomi

Visi mereka jelas: "Sustainable Tourism Economy and Creating Impact for Communities". Intinya, membangun ekosistem yang tak cuma mendongkrak ekonomi nasional, tapi juga memperkuat komunitas lokal dan menjaga alam.

Herdy Harman, Direktur SDM dan Digital InJourney, memaparkan kerangka kerjanya. Ada dua pilar penopang. Pertama, lingkungan. Di sini fokusnya pada pengelolaan air dan limbah yang bertanggung jawab, strategi iklim, serta perlindungan keanekaragaman hayati.

Pilar kedua adalah sosial-ekonomi. Prioritasnya adalah meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Caranya melalui program kesehatan, pengentasan kemiskinan, perluasan akses pendidikan, dan tentu saja, kemitraan dengan pelaku usaha lokal dan UMKM.

Herdy juga menyebut komitmen konkret untuk menurunkan emisi. "InJourney menegaskan komitmen penurunan emisi sebesar 4.000 tonCO₂e," katanya.

Ini disebutnya sebagai langkah awal menuju operasional yang lebih hijau, sekaligus dukungan pada target Net Zero Emission pemerintah.

"Komitmen tersebut diwujudkan melalui green initiative program di lingkungan InJourney Group," lanjut Herdy. Program ini dirancang untuk menciptakan dampak yang bisa diukur dan konsisten.

Implementasinya beragam. Mulai dari pemanfaatan energi terbarukan, elektrifikasi operasional, sampai rehabilitasi lingkungan. Saat ini, sembilan bandara utama sudah menggunakan PLTS yang menghasilkan 10.760 MWh energi terbarukan per tahun. Angka itu setara dengan penyerapan karbon oleh 272 ribu pohon.

Tak berhenti di situ. Adopsi kendaraan listrik juga digenjot. "Hingga saat ini, kami telah mengoperasikan 716 unit kendaraan dan peralatan listrik," pungkas Herdy. Peralatan itu, mulai dari ground support equipment hingga buggy car, tersebar di berbagai destinasi untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar