InJourney Siap Pangkas 4.000 Ton Emisi Karbon dari Bandara hingga Hotel

- Selasa, 20 Januari 2026 | 05:00 WIB
InJourney Siap Pangkas 4.000 Ton Emisi Karbon dari Bandara hingga Hotel

Sebagai holding BUMN yang jangkauannya luas, InJourney tak menampik bahwa operasional bisnisnya menghasilkan jejak karbon yang cukup besar. Maya Watono, Direktur Utamanya, mengakui hal itu. Dari bandara hingga hotel, aset mereka tersebar di berbagai penjuru negeri. Makanya, komitmen untuk menekan emisi bukan lagi sekadar wacana.

"Anggota kami ada enam, mulai dari bandara, layanan penerbangan, ITDC yang mengelola destinasi, ritel, sampai hotel," jelas Maya dalam konferensi pers 4 Tahun InJourney di Jakarta, Senin (19/1/2026).

Ia melanjutkan, "Kami mengelola aset di seluruh Indonesia, jadi carbon footprint-nya memang banyak. Karena itulah kami berkomitmen menurunkan emisi karbon sebesar 4.000 ton CO2. Komitmen ini akan kami eksekusi secara nyata tahun ini."

Bayangkan saja skalanya. Perusahaan ini mengelola 37 bandara dengan total pergerakan penumpang mencapai 157 juta orang per tahun. Belum lagi 9,8 juta kunjungan ke destinasi wisatanya sepanjang 2025. Di sektor perhotelan, dari 39 hotel yang dikelola sekarang, akan dikonsolidasi menjadi 106 hotel pada tahun ini. Semakin besar, tantangan pengelolaan emisinya pun semakin kompleks.

Lalu, bagaimana caranya mencapai target 4.000 ton itu? Rencananya sudah disiapkan, dan akan dijalankan secara lintas sektor.

Di bandara, misalnya. InJourney bakal memperluas pemasangan panel surya dan mendorong efisiensi pemakaian listrik. Sementara untuk hotel dan kawasan wisata, strateginya berbeda. Mereka akan memperkuat sistem pengelolaan limbah dan mulai beralih menggunakan kendaraan operasional listrik.

Tak cuma mengandalkan teknologi, mereka juga menggarap program berbasis alam. Salah satunya dengan mengembangkan kawasan mangrove di Mandalika. Penanaman pohon juga akan dilakukan di sejumlah destinasi wisata lain yang berada di bawah naungan holding ini.

Maya menegaskan, semua upaya ini harus terukur. Transparansi jadi kunci. Ia ingin memastikan bahwa klaim pengurangan emisi itu bisa dipertanggungjawabkan, bukan sekadar kampanye.

"Ini aksi yang tangible. Nanti bisa dilihat bagaimana kami mengukur dengan akurat pengurangan emisi 4.000 ton CO2 ini, dan bagaimana eksekusinya dari berbagai sektor," tegasnya.

Pada akhirnya, target ini bukan cuma tentang angka. Menurut Maya, ini adalah kontribusi nyata bagi agenda transisi energi dan pariwisata berkelanjutan di Indonesia. Sekaligus mempertegas peran BUMN dalam mendukung target penurunan emisi nasional. Sebuah langkah besar yang, jika berjalan, dampaknya akan terasa luas.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar