Trump Guncang Wall Street dengan Wacana Batas Bunga Kartu Kredit

- Minggu, 18 Januari 2026 | 21:10 WIB
Trump Guncang Wall Street dengan Wacana Batas Bunga Kartu Kredit

Industri perbankan Amerika Serikat lagi-lagi dibuat pusing oleh gebrakan Donald Trump. Pekan lalu, mantan presiden itu menyerukan agar suku bunga kartu kredit dibatasi maksimal 10 persen. Targetnya, aturan itu mulai berlaku 20 Januari mendatang. Seruan yang tiba-tiba ini langsung bikin kalang kabut. Harga saham sektor keuangan tertekan, sementara para eksekutif bank kebingungan menentukan langkah. Mereka sadar, kebijakan semacam itu bisa menggerus profitabilitas mereka dengan signifikan.

Namun begitu, sampai saat ini belum ada kejelasan sama sekali dari Gedung Putih. Bagaimana mekanisme penerapannya? Apa sanksinya? Semuanya masih gelap. Kondisi ini menempatkan bank-bank pada posisi serba salah: antara harus bersiap atau menganggapnya sekadar wacana.

Menurut sejumlah pakar regulasi yang saya hubungi, langkah drastis seperti ini hampir mustahil diterapkan hanya dengan kewenangan eksekutif. Perlu ada undang-undang dari Kongres. Dan sejarah membuktikan, upaya serupa di Capitol Hill selalu mentok, gagal total. Industri kartu kredit punya lobi yang kuat di sana.

Sebelumnya, penasihat ekonomi Trump, Kevin Hassett, sempat mengemukakan ide lain.

“Mungkin bisa lewat ‘Trump cards’. Kartu yang ditawarkan secara sukarela oleh bank, bukan dipaksakan lewat regulasi baru,” ujarnya dalam wawancara dengan Fox Business Network.

Di sisi lain, seorang pejabat Gedung Putih bilang pemerintahan tengah mengeksplorasi semua opsi untuk mengatasi krisis biaya hidup yang mereka tuduhkan pada era Biden. Jadi, situasinya masih sangat cair.

“Sampai Jumat kemarin, belum ada kewajiban hukum apa pun yang harus kami ikuti. Tapi kami tetap waspada,” kata seorang sumber di industri perbankan yang enggan disebut namanya, seperti dilaporkan Reuters.

Rasanya, kebingungan ini yang paling menyiksa. Sumber tadi mengaku sudah coba berdiskusi dengan pihak pemerintahan untuk mencari kejelasan. Meski bingung, para pemberi pinjaman ini tak bisa menganggap enteng arahan Trump. Mereka menanggapi serius. Bahkan salah satu bank besar konon sudah menyiapkan CEO-nya untuk kemungkinan menerima telepon langsung dari pejabat tinggi.

Stephen Biggar, analis di Argus Research, punya prediksi.

“Saya kira akan ada percakapan berkelanjutan, tarik-ulur antara industri dan pemerintah. Itu pasti,” katanya.

Memang, selama bertahun-tahun industri perbankan punya track record kuat menolak aturan pembatasan bunga di Kongres. Dan sikap itu belum berubah. Dalam beberapa pekan ke depan, bisa dipastikan gelombang lobi dan advokasi akan menguat untuk melawan proposal ini.

Alasannya sederhana: bisnis kartu kredit itu sangat menguntungkan. David Krakauer dari Mercer Advisors bilang, pembatasan suku bunga bakal langsung menggerus ekspektasi laba bank-bank besar dan perusahaan kartu. Imbasnya ke pasar saham bisa luas.

Lalu, apa jalan tengahnya? Mungkin kompromi. Penyedia kartu bisa menawarkan produk inovatif, misalnya kartu dengan bunga rendah untuk segmen nasabah tertentu. Atau, kartu ‘polos’ tanpa program rewards yang bunganya 10 persen, tapi dengan limit lebih rendah. Beberapa bank, contohnya Bank of America, sudah punya produk mirip begini.

Tapi tetap saja, ruang gerak mereka terbatas.

“Bank bisa melawan, tapi ada batasnya. Mereka tak bisa mengabaikan tekanan politik sepenuhnya,” ujar Brian Mulberry, manajer portofolio di Zacks Investment Management.

Intinya, volatilitas kebijakan ini kemungkinan besar akan memicu gejolak di pasar. Sampai ada kejelasan entah itu berupa draft regulasi, pernyataan resmi, atau malah wacana yang menguap begitu saja bank dan investor akan terus berada dalam ketidakpastian. Ujian politik yang rumit, memang.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar