Kami makan di tepi jalan. Riuh rendah. Turis bule kesulatan pakai sumpit, turis Arab menyeruput es kelapa. Belum selesai, kami sudah diseret ke tempat lain.
Geser sedikit ke Changkat. Boom! Suasana berganti lagi.
Bangunan tua berubah jadi bar dan pub. Musik keras memekakkan telinga. Bule-bule memadati jalan sambil menggenggam bir. Suasananya mirip Legian atau Braga di akhir pekan.
Lalu kami berjalan lagi ke persimpangan. Ada live music. Orang duduk lesehan di trotoar. Pengamennya bawa peralatan lengkap. "Ini baru Malioboro!" seru saya.
Tak jauh dari sana, banyak turis jalan-jalan sambil foto-foto di depan gedung tua yang estetik. Ada juga yang nongkrong di kafe. "Nah, kalau ini Simpang Tunjungan Surabaya," gumam saya.
Rizal menatap saya, senyumnya lebar. "Lihat kan? Di sini, mau jadi orang berduit, mau jadi rakyat biasa, atau mau dugem, jaraknya cuma selemparan sandal jepit."
Di situlah saya tersadar. Kita di Indonesia ternyata menganut sistem 'Wisata Mencicil'.
Mau kuliner khas? Ke Semarang. Mau suasana lesehan? Ke Jogja. Mau belanja mewah? Ke Jakarta. Mau dugem? Ke Bali. Mau jalan-jalan estetik? Ke Surabaya.
Masalahnya cuma satu: jarak.
Di kita, untuk ganti 'vibe' butuh perjalanan jauh. Butuh tiket, bensin, dan kesabaran ekstra. Pantat harus tahan duduk berjam-jam.
Di Bukit Bintang? Cuma butuh betis yang kuat. Titik.
Mereka menerapkan konsep 'toserba' untuk wisatawan. Mereka paham betul, turis itu pada dasarnya manja. Malas bergerak terlalu jauh. Maunya semua kemudahan dalam satu area. Mereka memadatkan segala pengalaman khas Nusantara ke dalam satu kawasan kecil. Efisien banget, sih.
Kita? Kita menawarkan petualangan. "Mau lihat pemandangan indah? Hadapi macet ke Puncak dulu!" Atau, "Mau yang eksotis? Naik kereta enam jam dulu!" Memang ada romantismenya sendiri. Tapi bagi turis yang waktunya terbatas, itu lebih mirip penyiksaan daripada liburan.
Setelah puas muter-muter, saya akhirnya menyerah. Badan saya hempaskan di lobi hotel, ditemani segelas 'Air Mata Kucing'. Namanya dramatis, rasanya manis dan menyegarkan.
Sambil menyeruput minuman hitam pekat itu, saya gosok-gosok betis yang pegal bukan main. Kombinasi yang aneh tapi pas. Mulut dingin, kaki panas.
"Kenapa mukanya masam? Gak suka?" goda Rizal.
"Suka. Tapi kaki saya mau copot," keluh saya.
Rizal tertawa. "Nah, itu bedanya. Di sini kakimu pegal karena jalan-jalan. Di tempatmu, badan pegal karena duduk di jalanan macet maksudnya."
Skakmat. Saya diem. Rizal Hakim benar-benar 'menghakimi' saya dengan sempurna.
Di KL, betis yang korban. Di Indonesia, pantat dan pinggang yang menerima akibat. Sama-sama capek, tapi hasilnya beda jauh.
Di sana, capeknya dapat banyak pengalaman. Di sini, capeknya dapat pemandangan pohon dan jalan tol.
Ah, sudahlah. Saya mau cari tukang pijat dulu. Siapa tau dia bisa memijit betis saya sekaligus memijit ego pariwisata kita yang lagi-lagi kalah. Belajar dari tetangga itu nggak dosa, kok. Asal jangan sampai diklaim aja.
Artikel Terkait
Pabrik BYD Subang Siap Beroperasi, Target Produksi Kuartal I 2026
Balikpapan Berkisah: Dari Sumur Mathilda hingga Dapur Energi Masa Depan
Duel Falcao vs Ricardinho Siap Panaskan Jakarta di X Series 2
Danantara Incar Industri Tekstil, Utamakan Penciptaan Lapangan Kerja