Betis Pegal di KL, Pantat Pegal di Jakarta: Belajar dari Toserba Wisata Malaysia

- Jumat, 16 Januari 2026 | 05:06 WIB
Betis Pegal di KL, Pantat Pegal di Jakarta: Belajar dari Toserba Wisata Malaysia

"Borobudur itu sakral, Bung! Dibandingkan dengan Batu Caves, itu tidak apple to apple!"

Begitulah salah satu komentar yang menghujam di kolom saya. Seolah-olah membandingkan kedua situs itu adalah sebuah kesalahan fatal. Tapi, coba kita pikirkan lagi. Apakah Batu Caves cuma tempat biasa yang kebetulan ada patung dewa?

Bagi umat Hindu, gua kapur di Selangor itu punya nilai kesucian yang sama tingginya dengan Borobudur bagi umat Buddha. Yang membedakan sebenarnya cuma satu: cara mengelolanya. Kita di Indonesia kerap bersembunyi di balik tameng 'kesakralan' yang justru membuat candi terasa jauh dan berjarak. Sementara Malaysia, lihat saja, mereka berhasil menyelaraskan spiritualitas dengan kegiatan komersial. Tanpa keributan.

Di Batu Caves, eskalator modern dan tangga warna-warni yang instagramable itu hidup berdampingan dengan area peribadatan yang khusyuk. Sebuah tamparan halus bagi kita. Ini membuktikan bahwa pariwisata tidak selalu menodai kesucian. Justru bisa menjadi penopangnya.

Tapi, mari kita kesampingkan dulu perdebatan 'apple to apple' tadi. Kisah Batu Caves itu baru pembuka. Pengalaman saya selanjutnya di Kuala Lumpur, ini yang bener-bener bikin tersentil.

Setelah meliput Festival Thaipusam, rencana saya cuma satu: pulang. Koper sudah siap. Eh, tapi Helmi, teman saya orang Malaysia yang ceplas-ceplos itu, membatalkan niat saya.

"Jangan balik dulu, Fit," katanya sambil nyengir. "Kamu belum sah ke KL kalau belum ke Bukit Bintang."

"Duit tinggal sedikit, Hel. Tempat mahal kan situ?"

"Santai. Ada sepupu aku yang jadi 'Sultan' di sana. Namanya Rizal Hakim."

Dengar nama 'Hakim', saya langsung membayangkan sosok tua galak berkumis tebal. Ternyata dugaan saya meleset total.

Rizal muncul cuma pakai kaos oblong dan celana pendek. Pendiam. Bicara seperlunya, sangat kontras dengan Helmi yang cerewet. Tapi omongannya... pedasnya minta ampun.

"Oh, ini jurnalis Indonesia tu? Yang negaranya luas tapi jalannya macet melulu?" sapanya datar.

Darah saya naik seketika. Baru ketemu, langsung dihajar.

Ya sudahlah. Akhirnya saya ikut mereka menginap dua malam di Bukit Bintang. Dan di situlah saya melihat sebuah kegilaan tata kota yang membuat saya tercengang. Tempat itu ajaib, sungguh.

Coba bayangkan. Anda ambil semua vibe khas kota-kota besar Indonesia. Kemewahan Plaza Indonesia, suasana Braga, keramaian Malioboro, semrawut Pasar Semawis, estetika Tunjungan, dan kemeriahan Legian. Campur jadi satu. Itulah Bukit Bintang.

Semua ada di sana. Berjejalan. Tanpa jarak.

Sore itu, Rizal mengajak saya ke Pavilion KL. Dingin, mewah, penuh dengan toko-toko branded. Orang-orang berjalan cepat dengan penampilan sempurna.

"Ini kalau di Jakarta kayak Bundaran HI ya," ucap saya.

Rizal cuma angguk. "Tunggu lima menit. Kita pindah alam."

Dan benar. Hanya dengan jalan kaki lima menit, kami sampai di Jalan Alor. Dunia berubah seratus delapan puluh derajat.

Aroma parfum mahal hilang, digantikan asap sate, bawang goreng, dan bau got yang 'khas'. Lampion merah bergantungan. Ini persis Pasar Semawis di Semarang! Bedanya, Jalan Alor ini beroperasi tiap hari, nonstop. Asapnya ngebul tak ada henti.

Rizal menunjuk sebuah kursi plastik. "Duduk sini. Pesan Sayap Ayam. Jangan mikirin kolesterol. Lagi libur nih."

Kami makan di tepi jalan. Riuh rendah. Turis bule kesulatan pakai sumpit, turis Arab menyeruput es kelapa. Belum selesai, kami sudah diseret ke tempat lain.

Geser sedikit ke Changkat. Boom! Suasana berganti lagi.

Bangunan tua berubah jadi bar dan pub. Musik keras memekakkan telinga. Bule-bule memadati jalan sambil menggenggam bir. Suasananya mirip Legian atau Braga di akhir pekan.

Lalu kami berjalan lagi ke persimpangan. Ada live music. Orang duduk lesehan di trotoar. Pengamennya bawa peralatan lengkap. "Ini baru Malioboro!" seru saya.

Tak jauh dari sana, banyak turis jalan-jalan sambil foto-foto di depan gedung tua yang estetik. Ada juga yang nongkrong di kafe. "Nah, kalau ini Simpang Tunjungan Surabaya," gumam saya.

Rizal menatap saya, senyumnya lebar. "Lihat kan? Di sini, mau jadi orang berduit, mau jadi rakyat biasa, atau mau dugem, jaraknya cuma selemparan sandal jepit."

Di situlah saya tersadar. Kita di Indonesia ternyata menganut sistem 'Wisata Mencicil'.

Mau kuliner khas? Ke Semarang. Mau suasana lesehan? Ke Jogja. Mau belanja mewah? Ke Jakarta. Mau dugem? Ke Bali. Mau jalan-jalan estetik? Ke Surabaya.

Masalahnya cuma satu: jarak.

Di kita, untuk ganti 'vibe' butuh perjalanan jauh. Butuh tiket, bensin, dan kesabaran ekstra. Pantat harus tahan duduk berjam-jam.

Di Bukit Bintang? Cuma butuh betis yang kuat. Titik.

Mereka menerapkan konsep 'toserba' untuk wisatawan. Mereka paham betul, turis itu pada dasarnya manja. Malas bergerak terlalu jauh. Maunya semua kemudahan dalam satu area. Mereka memadatkan segala pengalaman khas Nusantara ke dalam satu kawasan kecil. Efisien banget, sih.

Kita? Kita menawarkan petualangan. "Mau lihat pemandangan indah? Hadapi macet ke Puncak dulu!" Atau, "Mau yang eksotis? Naik kereta enam jam dulu!" Memang ada romantismenya sendiri. Tapi bagi turis yang waktunya terbatas, itu lebih mirip penyiksaan daripada liburan.

Setelah puas muter-muter, saya akhirnya menyerah. Badan saya hempaskan di lobi hotel, ditemani segelas 'Air Mata Kucing'. Namanya dramatis, rasanya manis dan menyegarkan.

Sambil menyeruput minuman hitam pekat itu, saya gosok-gosok betis yang pegal bukan main. Kombinasi yang aneh tapi pas. Mulut dingin, kaki panas.

"Kenapa mukanya masam? Gak suka?" goda Rizal.

"Suka. Tapi kaki saya mau copot," keluh saya.

Rizal tertawa. "Nah, itu bedanya. Di sini kakimu pegal karena jalan-jalan. Di tempatmu, badan pegal karena duduk di jalanan macet maksudnya."

Skakmat. Saya diem. Rizal Hakim benar-benar 'menghakimi' saya dengan sempurna.

Di KL, betis yang korban. Di Indonesia, pantat dan pinggang yang menerima akibat. Sama-sama capek, tapi hasilnya beda jauh.

Di sana, capeknya dapat banyak pengalaman. Di sini, capeknya dapat pemandangan pohon dan jalan tol.

Ah, sudahlah. Saya mau cari tukang pijat dulu. Siapa tau dia bisa memijit betis saya sekaligus memijit ego pariwisata kita yang lagi-lagi kalah. Belajar dari tetangga itu nggak dosa, kok. Asal jangan sampai diklaim aja.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar