Bagi Zulfikar, motor listrik bukan sekadar tren. Itu adalah alat kerja utama. Sebagai driver ojek daring, ia menghabiskan waktu hingga 12 jam sehari di atas Polytron Fox R miliknya, mengarungi jalanan kota. Dan ternyata, kendaraan listrik itu mampu mengimbangi ritme kerjanya yang padat.
Jarak tempuhnya per hari bisa dibilang ekstrem. "Kalau harian itu tentatif ya," ujarnya, "tapi paling jauh hampir 200 kilometer sehari. Rata-rata memang di kisaran itu."
Angka itu ia sampaikan saat ditemui di sebuah acara baru-baru ini. Bayangkan, hampir 200 km setiap hari. Tentu saja, dengan jarak sejauh itu, pengisian daya jadi rutinitas. Untungnya, Zulfikar punya strategi.
"Kurang lebih 200 kilometer, jadi sehari dua kali ngecas," katanya. "Biasanya sambil makan atau istirahat juga."
Jadi, waktu istirahatnya ia selaraskan dengan momen motor 'diisi ulang'. Cara ini membuat produktivitasnya tak terganggu. Setelah dua tahun menjalani pola ini, ia punya penilaian jernih. Manfaatnya, menurutnya, jauh lebih besar ketimbang kekurangannya.
Hal paling terasa? Tentu saja penghematan biaya. Coba bandingkan dengan masa ia pakai motor bensin. "Kalau pakai motor bensin, per hari saya bisa keluar bensin sekitar Rp 60 ribu," ucap Zulfikar. "Pakai motor listrik paling cuma Rp 10 ribu sampai Rp 15 ribu."
Perbedaannya sangat signifikan. Selain itu, ia juga lega karena perawatannya jauh lebih sederhana. Tak ada lagi ritual ganti oli bulanan atau servis berkala yang menyita waktu dan biaya.
Artikel Terkait
Hakim Ad Hoc Mogok Sidang, Ruang Pengadilan Sepi Mulai Besok
Aurelie Moeremans Bongkar Luka Grooming di Masa Remaja Lewat Broken Strings
Indonesia dan China Perkuat Kolaborasi, Nilai Perdagangan Tembus Rp2.100 Triliun
Setelah Mandek 12 Tahun, Proyek RS Sumber Waras Akhirnya Dapat Lampu Hijau