Driver Ojol Ini Tembus 200 Km Sehari, Biaya Operasional Cuma Rp15 Ribu

- Minggu, 11 Januari 2026 | 09:36 WIB
Driver Ojol Ini Tembus 200 Km Sehari, Biaya Operasional Cuma Rp15 Ribu

Bagi Zulfikar, motor listrik bukan sekadar tren. Itu adalah alat kerja utama. Sebagai driver ojek daring, ia menghabiskan waktu hingga 12 jam sehari di atas Polytron Fox R miliknya, mengarungi jalanan kota. Dan ternyata, kendaraan listrik itu mampu mengimbangi ritme kerjanya yang padat.

Jarak tempuhnya per hari bisa dibilang ekstrem. "Kalau harian itu tentatif ya," ujarnya, "tapi paling jauh hampir 200 kilometer sehari. Rata-rata memang di kisaran itu."

Angka itu ia sampaikan saat ditemui di sebuah acara baru-baru ini. Bayangkan, hampir 200 km setiap hari. Tentu saja, dengan jarak sejauh itu, pengisian daya jadi rutinitas. Untungnya, Zulfikar punya strategi.

"Kurang lebih 200 kilometer, jadi sehari dua kali ngecas," katanya. "Biasanya sambil makan atau istirahat juga."

Jadi, waktu istirahatnya ia selaraskan dengan momen motor 'diisi ulang'. Cara ini membuat produktivitasnya tak terganggu. Setelah dua tahun menjalani pola ini, ia punya penilaian jernih. Manfaatnya, menurutnya, jauh lebih besar ketimbang kekurangannya.

Hal paling terasa? Tentu saja penghematan biaya. Coba bandingkan dengan masa ia pakai motor bensin. "Kalau pakai motor bensin, per hari saya bisa keluar bensin sekitar Rp 60 ribu," ucap Zulfikar. "Pakai motor listrik paling cuma Rp 10 ribu sampai Rp 15 ribu."

Perbedaannya sangat signifikan. Selain itu, ia juga lega karena perawatannya jauh lebih sederhana. Tak ada lagi ritual ganti oli bulanan atau servis berkala yang menyita waktu dan biaya.

"Motor bensin tiap bulan pasti ada ganti oli dan servis. Kalau motor listrik nggak ada perawatan rutin, kecuali ada kendala teknis saja," jelasnya.

Sebelum beralih ke listrik, Zulfikar setia dengan Honda Vario 125 selama delapan tahun. Lalu, bagaimana soal keandalan di kondisi sulit, misalnya saat hujan deras atau banjir?

Ia mengaku belum pernah mengalami masalah serius. Menurutnya, sistem pada Fox R ini cukup tangguh, asal digunakan sesuai aturan. "Kalau banjir Alhamdulillah aman, sampai dan pulang nggak ada masalah," tuturnya.

"Motor listrik kan pakai BLDC di roda belakang, asal jangan lebih dari 30 menit di air dan tetap bergerak, masih aman."

Soal kondisi motornya, Zulfikar memastikan unitnya masih standar pabrikan. Ia hanya melakukan penyesuaian kecil pada pengaturan gas agar lebih nyaman, tanpa modifikasi ekstrem seperti menambah baterai. Baginya, kunci efisiensi justru ada di cara mengemudi.

"Kalau motor listrik itu tergantung tangan juga. Nggak kayak motor bensin yang harus digeber, ini bisa di-gliding saja," ucapnya.

Pengalaman nyata ini membuatnya yakin dengan pilihannya. Kini, Zulfikar sama sekali tak berniat kembali ke motor bensin. Bahkan, rencananya ia akan menambah armada motor listrik lagi untuk mendukung pekerjaannya. Bagi driver seperti dirinya, keputusan beralih ke listrik ternyata bukan hanya soal ikut gaya, tapi benar-benar sebuah hitungan bisnis yang masuk akal.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar