Harapan Global Menipis: Survei Ungkap Optimisme Dunia Menyusut Menjelang 2026

- Jumat, 09 Januari 2026 | 17:30 WIB
Harapan Global Menipis: Survei Ungkap Optimisme Dunia Menyusut Menjelang 2026

Menjelang pergantian tahun, sebuah lembaga riset global, Gallup International, merilis survei yang cukup menarik. Mereka menanyai puluhan ribu orang di 60 negara tentang harapan mereka untuk tahun 2026. Hasilnya? Well, optimisme global ternyata masih ada, meski agak menipis dibanding tahun sebelumnya.

Survei yang mereka sebut End-of-Year (EOY) ini digelar serentak dari Oktober hingga Desember 2025. Partisipannya mencapai 59.636 orang dewasa. Dari jumlah itu, 37 persen percaya bahwa 2026 akan membawa hal yang lebih baik. Namun begitu, 25 persen justru merasa tahun depan akan lebih suram. Sementara itu, hampir sepertiga responden mengira tidak akan ada perubahan yang berarti.

Angka-angka itu menunjukkan bahwa harapan masih sedikit mengalahkan kekhawatiran. Tapi, kalau dibandingin dengan hasil survei akhir 2024, semangat optimis ini memang agak meredup.

Lalu, di mana semangat itu paling terasa? Ternyata, wilayah-wilayah seperti negara-negara Arab, Asia Selatan, Afrika, dan Amerika Latin masih punya harapan tinggi. Lima besar negara paling optimis diduduki oleh Kenya dengan skor 67, disusul Suriah ( 61), Arab Saudi ( 58), Afrika Selatan ( 52), dan Kolombia ( 45).

Di sisi lain, nuansa pesimis justru kuat di beberapa negara Eropa dan Afrika. Posisi terbawah ditempati oleh Bulgaria (-36), lalu Bosnia dan Herzegovina (-28). Austria, Belgia, dan Ghana sama-sama mencatat skor -26, membagi posisi tiga negara paling pesimis.

Negara Paling Optimis dan Pesimis di Aspek Ekonomi

Ceritanya jadi berbeda saat pertanyaannya menyentuh urusan perut. Sentimen publik berubah drastis ke arah yang lebih muram. Cuma 24% responden yang masih punya harapan akan kemakmuran ekonomi di 2026. Sebaliknya, 40% sudah siap-siap menghadapi kesulitan ekonomi. Kondisi ini bahkan lebih buruk dari tahun 2024.

Pesimisme ekonomi ini paling kuat terasa di negara-negara maju, terutama di kawasan Eropa Barat dan Timur. Tapi, di belahan dunia lain, ceritanya lain lagi. Optimisme justru berkumpul di wilayah Arab, Asia Selatan, Afrika, dan sebagian Amerika Latin.

Arab Saudi memimpin sebagai negara paling optimis soal ekonomi dengan skor 54. Kenya menyusul di belakangnya ( 47), lalu Suriah ( 35), Kolombia ( 34), dan Pakistan ( 26).

Sementara itu, Belgia mencatatkan diri sebagai negara paling pesimis dengan skor -59. Prancis, Latvia, dan Ukraina sama-sama di angka -54. Jerman menutup daftar ini dengan skor -53.

Dunia Dinilai Kian Tidak Damai

Masalahnya nggak cuma soal ekonomi. Laporan Gallup ini juga menyoroti pandangan publik tentang stabilitas dunia. Dan hasilnya, cukup suram. Secara global, 40% responden memperkirakan dunia akan jadi lebih bermasalah dan penuh konflik di tahun 2026. Yang berharap keadaan jadi lebih damai cuma 26%.

Pandangan paling kelam datang dari Eropa Barat, Amerika Utara, dan kawasan Australasia. Sebaliknya, harapan untuk perdamaian masih bertahan kuat di wilayah Arab, Asia Selatan, dan sebagian Afrika.

Suriah, yang justru tercatat sebagai negara paling optimis soal perdamaian dengan skor 50. Kenya lagi-lagi masuk daftar dengan skor 48, diikuti Arab Saudi ( 43), Peru ( 41), dan Armenia ( 33).

Di ujung spektrum yang berlawanan, Belanda memuncaki daftar negara paling pesimis dengan skor -61. Jerman (-59), Belgia (-57), Yunani (-54), dan Ghana (-52) menyusul di belakangnya.

Generasi Muda Lebih Optimistis

Kalau dilihat dari usia, ada perbedaan yang mencolok. Responden yang masih muda, di bawah 34 tahun, masih menunjukkan semangat optimis yang tinggi. Mereka masih punya harapan untuk masa depan.

Tapi, kelompok yang berusia 55 tahun ke atas justru menunjukkan sikap sebaliknya. Mereka cenderung pesimis, baik terhadap prospek ekonomi maupun perdamaian global.

Nah, kalau dari sisi gender, perbedaannya hampir nggak ada. Laki-laki dan perempuan menunjukkan sikap dan pandangan yang nyaris serupa terhadap semua isu yang ditanyakan.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar