Bali, pulau dewata yang terkenal dengan pantai dan budayanya, menghadapi tantangan serius. Data terbaru hingga Oktober 2025 menunjukkan jumlah kunjungan wisatawan hanya mencapai sekitar 8 juta orang. Angka ini terpaut jauh dari capaian tahun sebelumnya yang mampu menembus lebih dari 10 juta kunjungan. Penurunan ini jelas terasa, terutama di sektor perhotelan yang kinerjanya ikut melandai.
Lalu, apa penyebabnya? Menurut Ferry Salanto, Head of Research Colliers Indonesia, persoalan klasik seperti infrastruktur dan kemacetan parah mulai menggerus daya tarik Bali. Wisatawan zaman sekarang, baik domestik maupun mancanegara, menginginkan mobilitas yang cepat dan efisien. Sayangnya, hal itu semakin sulit didapat di Bali.
"Di Bali itu ada kendala yang harus diperbaiki, terutama dari sisi infrastruktur," ujar Ferry dalam sebuah konferensi pers virtual, Rabu (7/1/2026).
Dia menjelaskan, rencana transportasi massal masih sekadar wacana, sementara kondisi jalan di titik-titik wisata populer sudah di luar kendali.
"Transportasi massal belum terealisasi, sementara kemacetan di kawasan seperti Canggu sudah luar biasa. Wisatawan butuh waktu lama berpindah tempat, ini wasting time bagi mereka," katanya.
Kawasan Canggu, yang dulu digandrungi, kini justru menjadi contoh nyata. Kemacetannya luar biasa. Untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain yang sebenarnya tak terlalu jauh, bisa menghabiskan waktu berjam-jam. Bayangkan, liburan yang seharusnya menyenangkan justru dihabiskan di dalam kemacetan. Tentu saja ini bikin jengkel.
Artikel Terkait
Prasetyo Hadi Tegaskan Anggaran Rp60 Triliun untuk Pascabencana Bukan Anggaran Mati
Bencana November 2025: 25 Desa di Aceh dan Sumut Terhapus dari Peta
Satgas Beri Peringatan Terakhir ke 20 Perusahaan Sawit dan Tambang Penunggak Denda
Target 82,9 Juta Penerima: Program Makan Bergizi Gratis Pacu Kualitas Jelang 2026