Di sisi lain, pasar wisatawan domestik pun mulai berubah. Mereka perlahan mengalihkan pilihan liburan ke destinasi lain, baik di dalam negeri seperti Labuan Bajo atau Raja Ampat, maupun ke luar negeri yang menawarkan kemudahan akses. Meski keindahan alam dan budaya Bali tak tertandingi, kenyamanan selama berlibur ternyata menjadi pertimbangan utama yang mulai terganggu.
Dampaknya jelas merembet. Sektor perhotelan tentu merasakan imbas pertama. Namun, kekhawatiran juga menyasar restoran dan pelaku UMKM pariwisata yang hidupnya bergantung pada derasnya arus turis. Belum lagi, kemacetan yang ada turut mendongkrak biaya logistik dan operasional, memberatkan para pelaku usaha di sana.
Ferry menilai solusinya terletak pada percepatan pembangunan. Transportasi massal yang terintegrasi dan penataan kawasan wisata yang lebih baik adalah kunci utama. Tanpa terobosan signifikan, tren penurunan ini dikhawatirkan akan berlanjut.
"Kalau masalah transportasi ini tidak segera diselesaikan, bukan tidak mungkin wisatawan akan memilih destinasi lain yang lebih nyaman dan efisien," tegasnya.
Peringatannya jelas. Bali butuh tindakan nyata, dan cepat. Jika tidak, pesonanya bisa terus memudar di mata para pelancong yang punya banyak pilihan lain.
Artikel Terkait
Gunungan Sampah Bantargebang Bakal Disulap Jadi Harta Karun Energi
Nomade Coffee Truck Hijrah ke Pejaten Usai Kalah Saing di Thamrin
Pramono Anung Tegaskan UMP Jakarta 2026 Tak Berubah, Usulan KSPI Ditolak
Bantuan 10 Ton MNC Peduli Sampai di Aceh Tamiang, Warga Banjir Bandang Tersenyum Kembali