Di tengah hiruk-pikuk CES 2026 di Las Vegas, CEO Nvidia Jensen Huang punya pernyataan yang cukup mengejutkan. Ia menyamakan robot AI dengan pekerja migran. Analogi ini ia kemukakan untuk menjawab kekhawatiran lama: bahwa mesin akan merebut pekerjaan manusia.
Justru sebaliknya, menurut Huang. Robot-robot itu malah akan membuka lapangan kerja baru.
"Keberadaan robot akan menciptakan lapangan kerja," tegasnya di hadapan sekitar 200 jurnalis dan analis.
Sesi yang berlangsung sekitar 90 menit di sebuah hotel itu mengungkap pandangannya yang cukup berbeda. Bagi bos perusahaan chip AI terkemuka dunia ini, robot adalah solusi atas masalah yang kian nyata: kekurangan tenaga kerja di sektor manufaktur berbagai negara.
"Kita membutuhkan lebih banyak imigran AI," ujarnya, dengan nada meyakinkan.
"Mereka bisa membantu kita di lantai manufaktur, mengerjakan tugas-tugas yang mungkin sudah tidak lagi ingin kita lakukan."
Argumennya sederhana, tapi punya dasar yang kuat. Dunia sedang menghadapi penuaan populasi dan tren demografis yang menurun. Itu artinya, tenaga kerja bakal makin langka. Nah, di sinilah revolusi robotika masuk. Menurut Huang, kehadiran mereka justru akan mengimbangi kehilangan tenaga kerja tadi dan pada akhirnya mendongkrak perekonomian.
"Ketika ekonomi tumbuh, kita mempekerjakan lebih banyak orang," katanya, menegaskan poin tersebut.
Pameran teknologi CES sendiri, yang dimulai Selasa dan berlangsung hingga Jumat, dihadiri oleh sekitar 130.000 orang. Di ajang inilah Nvidia menunjukkan komitmennya. Mereka berinvestasi besar untuk menyediakan perangkat lunak dasar yang memungkinkan robot beroperasi di berbagai lini. Mulai dari manufaktur, ritel, hingga dunia perawatan kesehatan.
Jadi, naratifnya bukan tentang penggantian. Melainkan kolaborasi. Atau lebih tepatnya, kedatangan tenaga bantu baru yang siap mengisi celah-celah yang ditinggalkan oleh perubahan zaman.
Artikel Terkait
Black Steel FC Papua Hajar Unggul FC Malang 5-1 di Pro Futsal League
Wakil KPK Ungkap 81 Persen Koruptor Alirkan Uang Haram ke Wanita Lain
Pertamina Naikkan Harga Bright Gas dan BBM Non-Subsidi, Harga Berbeda Tiap Wilayah
Pertemuan IMF-Bank Dunia Soroti Ancaman Resesi Global Akibat Ketegangan di Selat Hormuz