Dalam penampilan pertamanya di depan pengadilan Amerika Serikat, Presiden Venezuela Nicolas Maduro dengan tegas membantah semua tuduhan. "Saya tidak bersalah," ujarnya di Pengadilan New York, Selasa lalu. Suaranya terdengar jelas, menegaskan posisinya.
Maduro juga menyampaikan kisah yang menggemparkan. Ia mengaku diculik secara paksa dari kediamannya di Caracas. Meski berada di balik jeruji, ia bersikeras bahwa dirinya tetaplah presiden sah Venezuela. Pernyataan ini sekaligus menjadi bantahan keras terhadap narasi yang dibangun oleh pemerintah AS.
Di sisi lain, Washington punya cerita berbeda. Otoritas AS mendakwa Maduro terlibat dalam jaringan penyelundupan narkotika dan kegiatan yang dikaitkan dengan terorisme. Sidang untuk kasus ini rencananya akan dilanjutkan pada pertengahan Maret mendatang. Kita lihat saja nanti bagaimana proses hukum ini berjalan.
Semua ini berawal dari aksi militer AS yang dramatis dan tak terduga. Dini hari Sabtu lalu, serangan dan pemboman mendadak mengguncang Caracas dan beberapa wilayah Venezuela. Operasi itu berakhir dengan penangkapan paksa terhadap Maduro beserta istrinya, yang kemudian dibawa ke New York.
Aksi sepihak Amerika Serikat itu ibarat melemparkan batu ke kolam yang tenang. Reaksi komunitas internasional datang bertubi-tubi, banyak negara menyuarakan kecaman keras. Mereka mempertanyakan langkah AS yang dianggap melanggar kedaulatan sebuah negara.
Sementara itu, dari Gedung Putih, Presiden Donald Trump menyampaikan pernyataan yang tak kalah kontroversial. Dia mengklaim bahwa Amerika Serikat kini memegang kendali atas Venezuela.
Trump juga mengeluarkan ancaman terselubung. Pemimpin baru Venezuela, menurutnya, harus tunduk pada keinginan Washington. Jika tidak, nasib mereka bisa sama seperti Maduro. Ancaman itu menggantung, menambah ketegangan situasi yang sudah panas.
Artikel Terkait
44 Penerima Beasiswa LPDP Terindikasi Langgar Kewajiban Pulang dan Mengabdi
Eliano Reijnders Soroti Performa Tak Konsisten Persib Meski Menang Tipis
Polisi Banten Ungkap Kronologi Kecelakaan Maut yang Tewaskan Bocah 11 Tahun di Pandeglang
Program Makan Bergizi Gratis Tembus Rp36,6 Triliun, Jumlah Penerima Capai 60 Juta Orang