MURIANETWORK.COM - Ali Shaath, Ketua Komite Teknokrat Palestina yang ditugaskan mengelola pemerintahan sehari-hari di Gaza, telah tiba di Washington, Amerika Serikat. Ia diundang untuk menghadiri pertemuan perdana Dewan Perdamaian (Board of Peace), sebuah forum yang dibentuk AS guna membahas masa depan kawasan tersebut pasca-konflik. Pertemuan ini juga dihadiri puluhan pemimpin dunia dan akan membahas komitmen dana besar serta rencana keamanan untuk Gaza.
Kedatangan dan Agenda Pertemuan
Ali Shaath tiba di ibu kota Amerika Serikat pada dini hari, Kamis (19/2/2026). Kedatangannya dikonfirmasi oleh sumber dalam yang mengetahui jadwal komite tersebut. Pertemuan Dewan Perdamaian ini sendiri merupakan kelanjutan dari upaya diplomatik yang dimulai setelah gencatan senjata Oktober lalu, yang turut dinegosiasikan oleh Qatar dan Mesir.
Sebuah sumber yang dekat dengan komite menjelaskan tujuan kehadiran Shaath. "Ali Shaath tiba di Washington pada subuh hari ini untuk berpartisipasi dalam pertemuan Dewan Perdamaian di Washington," tuturnya.
Rencana 100 Hari Pertama untuk Gaza
Dalam forum tersebut, Shaath dijadwalkan menyampaikan pidato penting yang menggariskan visi dan kerangka kerja untuk rehabilitasi Gaza. Fokus utamanya adalah rencana aksi konkret yang akan dijalankan dalam seratus hari pertama masa pemulihan.
Sumber yang sama memberikan detail lebih lanjut mengenai agenda tersebut. "Shaath dijadwalkan untuk menyampaikan pidato yang menguraikan kerangka umum rencananya untuk 100 hari pertama. Ia didampingi oleh pejabat komite yang bertanggung jawab atas portofolio keuangan," jelasnya.
Undangan untuk menghadiri pertemuan ini diterima Shaath hanya sehari sebelumnya, sebuah langkah cepat yang menunjukkan urgensi dari pertemuan tingkat tinggi ini. Kehadirannya, meski dengan pemberitahuan singkat, dikonfirmasi langsung oleh anggota komite lainnya.
Komitmen Dana dan Rencana Keamanan
Pertemuan di Washington bukan hanya membahas rencana pembangunan. Forum yang dihadiri sekitar dua lusin pemimpin dan pejabat senior dunia ini juga diharapkan menghasilkan komitmen pendanaan yang signifikan. Presiden AS diperkirakan akan merinci janji bantuan senilai lebih dari lima miliar dolar AS yang dialokasikan khusus untuk Gaza.
Selain pendanaan, isu keamanan pasca-konflik menjadi pokok bahasan lain yang krusial. Para peserta akan membahas mekanisme peluncuran Pasukan Stabilisasi Internasional. Tugas pasukan ini nantinya adalah memastikan stabilitas dan keamanan di Gaza, menciptakan landasan yang aman bagi proses rekonstruksi dan pemulihan kehidupan masyarakat yang telah lama terdampak perang.
Artikel Terkait
Mendagri Tito Tinjau Pembersihan Lumpur Pascabanjir di Aceh Tamiang
Bapanas Pastikan Ketersediaan Daging Ayam dan Telur dengan Program Stabilisasi Harga
Lapangan Padel di Cilandak Pangkas Jam Operasional Usai Keluhan Warga
KPK Perpanjang Larangan Bepergian ke Luar Negeri bagi Mantan Menag Yaqut dan Gus Alex