Kayu Hanyutan Diolah Jadi Huntara, Upaya Bersihkan Pasca-Bencana di Sumatera

- Selasa, 06 Januari 2026 | 12:05 WIB
Kayu Hanyutan Diolah Jadi Huntara, Upaya Bersihkan Pasca-Bencana di Sumatera

Upaya penanganan pascabencana di sejumlah wilayah Sumatera terus digenjot. Kali ini, fokusnya adalah mengatasi kayu-kayu hanyutan dan material sisa yang berserakan. Kementerian Kehutanan, bersama TNI, Polri, dan pemerintah daerah, masih bekerja keras membersihkan Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara.

Di Aceh Utara, tepatnya di Kecamatan Langkahan, situasinya cukup pelik. Tumpukan kayu menghalangi jalan, memenuhi halaman rumah, bahkan mengganggu fasilitas sekolah. Untuk mengatasinya, tim gabungan mengerahkan tidak kurang dari 28 unit alat berat. Kerja keras mereka mulai membuahkan hasil.

“Kami memprioritaskan pembersihan kayu yang menghalangi akses jalan, permukiman, dan fasilitas umum,” jelas Subhan, Kepala Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL).

“Kayu yang masih bernilai guna kami pilah dan data agar bisa dimanfaatkan secara tertib untuk kebutuhan darurat warga,” tambahnya.

Hingga Senin lalu, sudah 300 batang kayu dengan volume hampir 470 meter kubik yang berhasil didata. Kayu-kayu ini pun langsung dimanfaatkan. Untuk membangun hunian sementara atau huntara, misalnya. Saat ini, satu unit huntara sudah selesai, sementara dua unit lainnya masih dalam pengerjaan.

Sementara itu, di Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, pembersihan berpusat di beberapa desa seperti Garoga dan Huta Godang. Di sana, 20 alat berat dan 10 dump truck dikerahkan. Mereka tak cuma memilah kayu, tapi juga menormalisasi sungai dan membersihkan rumah warga. Bahkan, beberapa titik pemilahan disebut sudah rampung seratus persen.

Kepala BBKSDA Sumatera Utara, Novita Kusuma Wardani, menegaskan bahwa pekerjaan ini berjalan beriringan dengan upaya memenuhi kebutuhan tempat tinggal korban.

“Selain pembersihan dan pemilahan kayu, kami juga mendukung penyiapan lahan untuk huntara dan huntap. Kayu yang terdata akan dimanfaatkan untuk kebutuhan darurat masyarakat sesuai ketentuan,” kata Novita.

Di Garoga saja, sementara ini terkumpul ratusan batang kayu bulat dan kayu gergajian dengan total volume mencapai ratusan meter kubik.

Lalu, bagaimana dengan Sumatera Barat? Prosesnya masih berada di tahap awal. Tim di lapangan sedang gencar melakukan identifikasi dan pendataan. Lokasinya tersebar, mulai dari Pantai Padang hingga sepanjang aliran Sungai Batang Kuranji dan Air Dingin.

“Saat ini kami masih melakukan penghitungan jumlah dan jenis kayu hanyutan di beberapa lokasi,” ujar Hartono, Kepala BKSDA Sumatera Barat.

Ia menjelaskan, data yang akurat ini nantinya akan menjadi pedoman. Pemanfaatan kayu baru bisa dilakukan secara resmi setelah tim khusus dibentuk melalui Surat Keputusan Gubernur.

Yang jelas, pekerjaan ini masih panjang. Kementerian Kehutanan berjanji akan terus memperbarui data secara berkala. Tujuannya satu: memastikan semua kayu sisa bencana ini bisa dimanfaatkan dengan baik, tertib, dan benar-benar meringankan beban warga yang terdampak.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar