Upaya menekan emisi di sektor industri ternyata masih menghadapi jalan terjal. Padahal, adopsi energi baru terbarukan (EBT) terus menunjukkan grafik yang naik. Namun begitu, pertumbuhan itu belum cukup untuk mengelola penurunan emisi secara berkelanjutan dalam jangka panjang. Masih ada sejumlah kendala yang mengganjal.
Menurut Emmanuel Jefferson Kuesar, CEO SUN Energy, akar masalahnya terletak pada cara perusahaan menjalankan inisiatif dekarbonisasi. "Berbagai upaya itu masih sering berjalan sendiri-sendiri, terpisah di tiap fasilitas," ujarnya.
Ia membeberkan beberapa hambatan konkret. Pemasangan sistem energi bersih, misalnya, belum terintegrasi antar lokasi produksi sebuah perusahaan. Ini jadi masalah besar. Di sisi lain, pemantauan data energi yang terpusat masih terbatas. Belum lagi kompleksitas operasional di perusahaan dengan banyak pabrik atau site. Semua itu memperbesar tantangan dalam memangkas emisi.
Ke depan, kunci percepatannya ada pada pengembangan teknologi. Itu yang ditekankan Emmanuel.
Menyambut 2026, fokus SUN Energy tak lagi cuma pada proyek energi surya. Mereka juga menggarap teknologi penyimpanan energi, seperti Battery Energy Storage System (BESS). Sasaran utamanya adalah sektor industri dengan kebutuhan energi tinggi dan operasional rumit seperti pertambangan atau manufaktur berat.
"Integrasi antara pembangkitan, penyimpanan, dan sistem manajemen energi menjadi pondasi penting untuk memastikan keandalan pasokan sekaligus efisiensi emisi,”
Demikian penjelasannya dalam keterangan resmi, Senin (5/1/2026).
Artikel Terkait
Dubes Iran Akui Kondisi Selat Hormuz Mirip Masa Perang, Kapal Pertamina Masih Tertahan
Stasiun JIS Ditargetkan Beroperasi Juni 2026, Dukung Lonjakan Pengguna KRL
Gapensi Proyeksikan Kenaikan Biaya Konstruksi hingga 8% Akibat Lonjakan Harga Energi
Prancis Resmi Tarik Seluruh Cadangan Emas dari New York ke Paris