Surplus Perdagangan Indonesia Terus Mengalir, Tapi Sinyal Merah dari Migas dan China Mengintai

- Senin, 05 Januari 2026 | 12:25 WIB
Surplus Perdagangan Indonesia Terus Mengalir, Tapi Sinyal Merah dari Migas dan China Mengintai

"Surplus sepanjang Januari hingga November 2025 ini lebih ditopang oleh surplus komoditas non migas yaitu sebesar USD56,15 miliar. Sementara komoditas migas masih mengalami defisit sebesar USD17,61 miliar," tuturnya.

Lalu, dengan negara mana saja kita untung? Data BPS menunjukkan, Amerika Serikat masih menjadi partner dagang yang memberikan surplus terbesar bagi Indonesia, yakni USD16,54 miliar. Disusul oleh India dengan USD12,06 miliar, dan Filipina di posisi ketiga dengan USD7,81 miliar.

Di sisi lain, hubungan dagang dengan beberapa negara justru memberi beban defisit. China masih menjadi yang terbesar di kategori ini, dengan defisit mencapai USD17,74 miliar. Australia dan Singapura menyusul di belakangnya, masing-masing dengan defisit USD5,04 miliar dan USD4,66 miliar.

Fokus pada kelompok nonmigas saja, pola serupa terlihat. Amerika, India, dan Filipina lagi-lagi menjadi penyumbang surplus terbesar. Tapi defisit terdalam justru terjadi dengan China, lalu Australia, dan yang mengejutkan, Brasil muncul di peringkat ketiga dengan defisit USD1,65 miliar.

Secara keseluruhan, laporan BPS ini menggambarkan ketahanan sekaligus kerentanan. Sektor non-migas terus menjadi penyelamat, sementara ketergantungan pada impor migas dan hubungan dagang dengan negara tertentu masih jadi pekerjaan rumah yang serius.

Editor: Melati Kusuma


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar