Operasi militer Amerika Serikat di Venezuela akhir pekan lalu benar-benar menggegerkan dunia. Pasukan AS bergerak pada hari Sabtu, menangkap Presiden Nicolas Maduro langsung dari negaranya. Ia lalu dibawa ke Amerika untuk menghadapi pengadilan. Tuduhannya berat: terorisme dan penyelundupan narkoba.
Tak cuma itu, Presiden Donald Trump bahkan mengancam akan mengambil alih pemerintahan Caracas. Langkah ini, tentu saja, langsung memicu gelombang kecaman internasional.
Di sisi lain, sekutu-sekutu utama Venezuela pun tak tinggal diam. China, Rusia, dan Iran termasuk yang paling vokal mengecam aksi Washington tersebut. Mereka melihat ini sebagai pelanggaran kedaulatan yang keterlaluan.
Beijing, melalui juru bicara Kementerian Luar Negeri, menyampaikan protes resmi dengan nada yang sangat keras.
"China menyatakan keprihatinan yang mendalam atas tindakan AS yang secara paksa menangkap Maduro dan istrinya dan membawa mereka keluar negeri," begitu pernyataan resmi mereka.
"Langkah AS tersebut jelas melanggar hukum internasional, norma-norma dasar dalam hubungan internasional, dan tujuan serta prinsip-prinsip Piagam PBB."
Intinya, China mendesak Washington untuk segera bertindak. Mereka menuntut jaminan keselamatan bagi Maduro dan pembebasannya tanpa syarat. Selain itu, Beijing meminta AS menghentikan segala upaya untuk menggulingkan pemerintah yang sah di Venezuela. Menurut mereka, jalan satu-satunya adalah kembali ke meja perundingan. Dialog, bukan intervensi militer, yang harus jadi solusi.
Situasinya sekarang sangat tegang. Dunia menunggu reaksi AS berikutnya, sementara nasib Maduro masih digantung di pengadilan negeri asing.
Artikel Terkait
5 Spot Takjil Favorit Warga Bandung Saat Ramadan
Real Belanja Pemerintah Januari 2026 Tembus Rp227,4 Triliun, Tumbuh 25,7%
AS Yakinkan Mitra Dagang Soal Keberlanjutan Kesepakatan Meski Tarif Baru Berlaku
Defisit APBN Januari 2026 Capai Rp54,6 Triliun, Menkeu: Masih Terkendali