Di balik narasi keamanan dan transisi, ada pula motif ekonomi yang mencuat. Trump mengungkapkan bahwa perusahaan-perusahaan minyak AS sudah siap menanamkan modal besar-besaran di Venezuela. Tujuannya untuk memperbaiki infrastruktur energi yang rusak dan mengeksploitasi cadangan minyak yang sangat melimpah di sana. Menurutnya, ini bukanlah beban bagi keuangan AS. Justru sebaliknya.
“Uang yang keluar dari dalam tanah sangat besar,” katanya. Keuntungan dari sana, janji Trump, akan dialirkan untuk rakyat Venezuela sekaligus menjadi kompensasi bagi kerugian yang diderita AS akibat rezim Maduro.
Di sisi lain, Rodriguez punya pandangan yang bertolak belakang. Dia menuduh seluruh operasi ini hanyalah kedok untuk pergantian rezim. Motif sebenarnya, menurutnya, adalah menguasai sumber daya alam Venezuela yang kaya raya. Kebijakan AS ini, dia memperingatkan, bukan cuma mengancam kedaulatan Venezuela, tapi juga stabilitas seluruh kawasan Amerika Latin.
Operasi militer sepihak ini tak luput dari kritik, bahkan dari dalam negeri AS sendiri. Banyak anggota parlemen geram karena aksi ini dilakukan tanpa persetujuan Kongres. Di panggung internasional, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyuarakan keprihatinan mendalam. Mereka memperingatkan dampak serius yang bisa meledak dan mengganggu stabilitas regional.
Situasi di Venezuela kini benar-benar berada di ujung tanduk. Dua narasi saling bertarung: satu bicara tentang penegakan hukum dan transisi, sementara yang lain berteriak tentang invasi dan perampokan sumber daya. Bagaimana akhirnya? Itu masih jadi tanda tanya besar.
Artikel Terkait
Kemlu Pastikan 45 WNI di Meksiko Aman Usai Operasi Militer Tewaskan Bos Kartel
Timnas Indonesia Bisa Naik ke Peringkat 118 Dunia Jika Juara FIFA Series 2026
Manchester United Tak Terkalahkan di 2026, Posisi Keempat dengan Satu Laga Tertunda
Polisi Amankan 11 Motor Geng yang Buka Paksa Portal JLNT Casablanca