Di balik narasi keamanan dan transisi, ada pula motif ekonomi yang mencuat. Trump mengungkapkan bahwa perusahaan-perusahaan minyak AS sudah siap menanamkan modal besar-besaran di Venezuela. Tujuannya untuk memperbaiki infrastruktur energi yang rusak dan mengeksploitasi cadangan minyak yang sangat melimpah di sana. Menurutnya, ini bukanlah beban bagi keuangan AS. Justru sebaliknya.
“Uang yang keluar dari dalam tanah sangat besar,” katanya. Keuntungan dari sana, janji Trump, akan dialirkan untuk rakyat Venezuela sekaligus menjadi kompensasi bagi kerugian yang diderita AS akibat rezim Maduro.
Di sisi lain, Rodriguez punya pandangan yang bertolak belakang. Dia menuduh seluruh operasi ini hanyalah kedok untuk pergantian rezim. Motif sebenarnya, menurutnya, adalah menguasai sumber daya alam Venezuela yang kaya raya. Kebijakan AS ini, dia memperingatkan, bukan cuma mengancam kedaulatan Venezuela, tapi juga stabilitas seluruh kawasan Amerika Latin.
Operasi militer sepihak ini tak luput dari kritik, bahkan dari dalam negeri AS sendiri. Banyak anggota parlemen geram karena aksi ini dilakukan tanpa persetujuan Kongres. Di panggung internasional, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyuarakan keprihatinan mendalam. Mereka memperingatkan dampak serius yang bisa meledak dan mengganggu stabilitas regional.
Situasi di Venezuela kini benar-benar berada di ujung tanduk. Dua narasi saling bertarung: satu bicara tentang penegakan hukum dan transisi, sementara yang lain berteriak tentang invasi dan perampokan sumber daya. Bagaimana akhirnya? Itu masih jadi tanda tanya besar.
Artikel Terkait
Samsung Siap Catat Laba Tertinggi dalam 7 Tahun Berkat Panen Chip AI
Posko Nataru Ditutup, 10 Juta Penumpang Melintasi 37 Bandara
Harga BBM Nonsubsidi Anjlok, Pertamax hingga Dexlite Turun Mulai 2026
Setelah Vakum Hampir Empat Tahun, BTS Siap Luncurkan Album Baru dan Tur Dunia