Latar belakang serangan ini memang rumit. Sejak akhir tahun lalu, armada laut AS sudah membentuk kepungan di perairan dekat Venezuela. Presiden AS Donald Trump membenarkan manuver ini dengan alasan memerangi jaringan narkoba dan penyelundupan minyak yang terkena sanksi internasional. Namun, bagi banyak pengamat, langkah itu terasa lebih seperti tekanan politik berbalut militer.
Kekhawatiran terbesar justru datang dari kabar yang masih simpang siur: Presiden Venezuela Nicolas Maduro dikabarkan ditangkap oleh pasukan AS dalam operasi hari ini. Hingga berita ini diturunkan, keberadaan dan kondisinya belum dapat dipastikan. Kabar ini, jika benar, tentu akan mengubah peta konflik secara dramatis.
Reaksi internasional pun bergulir cepat. Sekutu-sekutu tradisional Caracas, seperti Iran dan Rusia, tak ketinggalan menyuarakan kecaman keras. Mereka menilai serangan AS sebagai pelanggaran kedaulatan yang tak bisa ditolerir. Di sisi lain, negara-negara tetangga di kawasan Amerika Latin, termasuk Kolombia dan Kuba, juga mengutuk aksi militer unilateral tersebut. Suasana dunia seketika kembali tegang.
Artikel Terkait
Harmoni hingga Mangga Besar: Lalu Lintas Bakal Dialihkan Selama 8 Bulan Awal 2026
Vietnam Buka Piala Asia U-23 dengan Kemenangan Telak, Saksikan Seluruh Aksi di VISION+
Iran Berduka: 36 Tewas dalam Gelombang Protes Terbesar Sejak 2022
Prabowo Tegaskan Swasembada Beras, Fokus Beralih ke Jagung dan Telur